“AGAMA,JEBAKAN MANUSIA BERAGAMA”.
Manusia beragama percaya, perjalanan hidup seseorang, adalah sebuah ujian dan sekaligus jebakan. Ibaratnya sebuah garis nafas yang panjang. Terdiri dari titik-titik nafas yang bersambung sampai titik nafas terakhir di ujung kematiannya. Setiap titik nafas, adalah jebakan. Setiap kali keluar dari satu titik jebakan, langsung masuk ke titik jebakan berikutnya. Begitu seterusnya.
Kaya miskin, derita bahagia, sukses gagal, sehat sakit, jalan lurus, berliku, mendaki, menurun, adalah jebakan sekaligus ujian. Layaknya makhluq sosial, adalah niscaya, sunnatullah manusia berinteraksi dalam kelompok pergaulan sesama manusia yang penuh warna.
Tingkah laku seorang khalifah, dalam interaksi sosial, mengelola alam semesta, bumi, lautan, angkasa, kesemuanya dipercaya sebagai ujian, sekaligus juga jebakan dalam perjalanan manusia. Sikap dan reaksi respon dalam menghadapi ujian jebakan, itu yang akan dinilai. Di peringkat maqam mana kita berada.
Pahala surga bagi yang lulus. Mereka yang mengatasi jebakan secara positif. Melahirkan keteladanan amal sholeh, kemanfaatan kemaslahatan bagi diri, umat manusia dan alam semesta. Hukuman neraka, bila mengatasi jebakan mengikuti hawa nafsunya. Membawa kerusakan, mudharat kedzaliman bagi dirinya, orang lain dan jagat raya.
Namanya jebakan ujian, ada yang mudah diindera, kasat mata dan dirasakan, seperti contoh-contoh diatas. Yang dialami dan dirasakan manusia secara umum. Ada jebakan yang khusus dialami oleh sebagian manusia saja. Jebakan Batman yang hakiki. Jebakannya halus, lembut, merayu, menggoda hati, sehingga lebih sering, tidak dirasakan sebagai jebakan.
Begitu menyilaukan mata, menyihir pikir, mempesona, menghibur, memberi kenikmatan lahir, kepuasan bathin tanpa tandingan. Alih-alih dirasa sebagai jebakan. Bahkan dinikmati layaknya mimpi panjang nan indah dan enggan terjaga. Kelembutan kelicikan rayuannya, hanya tertandingi oleh setan.
Dan memang, itulah kerja setan sesuai janji sejak mula diciptakan. Rayuannya, mengalir bersama aliran darah memenuhi sekujur syaraf. Dan banyak manusia terlena.
Dalam ajaran Islam, dikenal kalimat sirotol mustaqiem yang secara populer diterjemahkan sebagai jalan lurus. Sebagai idiom agama, sirotol mustaqiem, diriwayatkan ibarat jembatan menuju surga, yang dibawahnya neraka yang membara. Jembatan Sehalus Rambut Dibelah Tujuh Setajam Pedang. Bayangkan betapa halus dan ngerinya.
Melewati jembatan itulah, dipercaya, semua manusia harus melewatinya untuk mencapai surga. Yang tergelincir dan terjatuh, neraka siap memangsa dibawahnya. Begitulah ujian berat nan halus dilukiskan.
Agaknya, riwayat sirotol mustaqiem itu, menggambarkan titian jalan ujian jebakan manusia di dunia ini dan bukan di akhirat kelak. Disana, tidak ada lagi ujian atau jebakan. Semua serba nyata terang benderang. Jembatan misteri setipis itu, tak mampu diindera secara nalar biasa. Pastinya, tidak mudah bisa lulus dari ujian jebakan semacam itu.
Jebakan apakah gerangan yang begitu mengerikan? Para korbannya tidak merasa sedang dalam jebakan. Malah merasa dan mengaku, bahkan berteriak nyaring sedang kaffah beriman. Itulah, godaan orang-orang beriman, kata seorang Wali Allah.
Jebakan ujian Manusia Beragama, adalah Agama itu sendiri. Saat orang beragama dan merasa agama telah kaffah menjadi identitas dirinya. Bila membaca ayat berbunyi “…ya ayyuhal ladzina amanu…”, nah itulah kami disapa Allah. Bila sampai pada ayat “…innal munafiqina…innal ladzina kafaru..”, nah itu mereka sedang diancam Allah. Diri dan pikirannya menjadi tolok ukur tafsir wahyu suci.
Memandang sesamanya, sebagai makhluq lain yang tidak setara sebanding dengan dirinya. Merasa sebagai makhluq khas yang merasa berhak, mampu bebas “menciptakan” dirinya seperti apa, sesuai selera. Merasa dirinya terlahir sebagai makhluq yang sama sekali baru. Hijrah, katanya. Menjelma menjadi makhluq ajaib, Satria Pembela Tuhan. Bahkan, Tuhanpun diyakini membutuhkan dirinya.
Kata-katanya, ijtihad dan perbuatannya adalah agama. Hakim penentu jalan Kebenaran dan Kesesatan. Bukan hanya tasbih, namun kunci surga juga berada di tangannya. Jadilah mereka sekumpulan para demagog yang mengecoh masyarakat awam yang malang.
Bagaimana tidak !? Tidak tanggung-tanggung, manusia jadi-jadian ini, berani menjanjikan surga. Siapa tidak larut dengan janji rayuan surga? Meski gombal juga!
Di saat seperti itu, membunuh diri sendiri atau orang lain tak berdosa sekalipun, bisa dilakukannya dengan senyum. Apalagi sekedar berdusta dan menyebar fitnah. Semua perbuatan buruk yang dimurka Tuhan, bisa dilakukannya dengan enteng.
Alhasil, hanya berbeda alasan dengan kelakuan dan perbuatan setan. Setanpun bertepuk tangan, sukses misinya. Orang-orang yang mengaku dan merasa beriman itu, telah masuk, menikmati dan enggan keluar dari jebakannya.
Begitulah godaan orang-orang beriman… Sementara Agama bukan untuk Tuhan. Melainkan untuk Manusia! Agama, demi kemaslahatan manusia. Manakala tidak !? Bahkan melahirkan kegaduhan, kebencian, permusuhan, pembunuhan dan berbagai kerusakan, pastilah itu bukan Agama Tuhan. Melainkan agama setan.
Maha Suci Tuhan, bagiNya, tidak membutuhkan kemaslahatan, kemanfaatan, kesejahteraan, kedamaian dan semua yang didamba makhluqnya. Subhanallah..Fahuwa Ghoniyyun…
Oya Bib, habib, mengaku atau merasa habib, termasuk dalam jebakan halus nan lembut yang berbahaya itu….
(dari catatan hy 26 Des.2019)