catatan Al ‘aql menurut Al Munjid
Nurun ruhaniyyun bihi tudriku an nafs ma la tudrikuhu bil hawas, wa qod summiya al’aqlu aqlan li annahu ya’qilu shohibahu ‘anit-twarrathi fil mahalik ay yahbisuhu
“Nur cahaya ruhani yang dimiliki seseorang yang dengannya dapat menjangkau anafs (sesuatu yang metafisis/abstrak) yang tidak dapat dijangkau dengan indera yang lain.
Dinamakan ‘aql karena dia mengikat pemiliknya terhindar dari kebinasaan diri” Al’aql memiliki banyak arti makna yang dapat kita temukan diberbagai kamus. Dalam Almunjid juga beragam makna dan artinya.
Salah satunya adalah penjelasan makna al’aql yang terdapat dalam Al Munjid diatas, penulis yakin itulah arti yang lebih dekat pada makna sesuai Al Qur’anul Kariem.
Sementara makna akal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah merupakan daya pikir yang bisa kemana saja, termasuk misalnya dicontohkan “penipu tidak akan kekurangan akal” artinya menggunakan akal untuk berbuat buruk.
Meski juga ada contoh “Makhluk Tuhan yang mempunyai akal adalah manusia” juga terdapat kata “akal-akalan”, “mengakali”, “akal bulus” dstnya…
Meski diketahui bahwa kata akal dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab al’aql. Akan tetapi dalam perkembangan bahasa Indonesia, arti akal telah sangat jauh berbeda.
Al ‘Aql dalam Al Quran (Berbeda dengan Akal seperti yang dimengerti kebanyakan orang) Tidak ada ajaran, doktrin, ideologi, agama yang memberi tempat begitu mulya dan adil kepada al ‘aql seperti al quran al kariem.
Apabila dalam berbagai disiplin ilmu, manusia telah mendapat berbagai julukan, seperti loughing animal (binatang yang bisa tertawa), erect animal (binatang yang berdiri tegak), economic animal (binatang yang mengelola ekonomi), noble animal (binatang yang terhormat), homo politican (makhluq yang hidup bermasyarakat), dan mungkin banyak lagi sebutan lain, bagi makhluq yang alquran menyebutnya ahsanu taqwim (sebaik-baiknya konstruksi).
Sangatlah meyakinkan kita bahwa alquran menyuratkan menyiratkan secara kuat, julukan yang tepat dan sekaligus adil bagi manusia dengan sebutan sebagai makhluq yang ber’aql.
Bagi siapa saja yang pernah membaca al quran, dengan mudah akan menemukan bertebaran kata-kata ya’qilun, ta’qilun, yatafakkarun, tatafakkarun, ulul albab yang kesemuanya dipahami berkaitan langsung dengan al’aql. Pertanyaan, tantangan yang diajukan al quran senantiasa tertuju kepada al’aql dan tidak kepada indera yang lain.
Coba bertadabbur dengan ayat-ayat berikut : surat Ar Rum ayat 24,28, surat Yunus ayat 100, surat Al Maidah ayat 58, Az Zumar ayat 43, Asy Syu’ara ayat 28, dan ayat-ayat dalam bentuk kalimat tanya seperti dalam surat Al Ghosyiah ayat 17,18,19 dan 20, tidak diragukan ditujukan pada makhluq mulia al ‘aql.
Bila banyak orang diluar sana cenderung menghubungkan al’aql dengan hal-hal yang hanya bersifat empiris dan inderawi. Berbeda dengan al quran yang justru mengaitkannya bahkan dengan hal-hal yang sering disebutnya sebagai hal-hal gaib atau ritual ibadah, seperti jelas tersebut dalam surat al maidah ayat 58.
Alquran suci menyatakan, bahwa mata, telinga, hati dan semua indera dan anggota tubuh yang dimiliki manusia, kaki, tangan hidung, kesemuanya hanya berarti secara benar bila dikaitkan dengan penyertaan akal didalam fungsinya. Memisahkannya semua indera dan anggota tubuh manusia itu dengan akal, akan berakibat fatal.
Itu berarti telah menurunkan harkat derajat kemanusiaan sampai serendah bahkan lebih rendah dari binatang. Alquran tidak melihat, bahkan mengesampingkan mata, telinga, hidung dan semua indera dan anggota tubuh yang dimiliki manusia, bila dalam memfungsikannya tidak menyertakan al’aql.
Nyatalah, bahwa menurut alquran, akal adalah garis pemisah antara manusia dengan makhluq yang lain. Sangat menarik, bila seringkali kita mendengar pemahaman orang diluar sana, seolah-olah al’aql dan iman berada dalam ruang yang berbeda.
Akal selalu diagung-agungkan meski hanya sekedar dikaitkan dengan dengan penemuan-penemuan eksakta, empiris dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang seringkali justru menyilaukan dan menjadi hijab bagi manusia menemukan Allah swt.
Sementara iman, dikesankan sebagai mempercayai meyakini sesuatu yang tidak terjangkau oleh al’aql yang kemudian disebut gaib.
Bila kita renungkan dan cermati ayat-ayat alquran dan hadis Nabi, sangat kuat mengisyaratkan, bahwa apabila puncak yang gaib itu adalah Allah swt, maka alquran justru meyakinkan kita, bahwa temuan al’aql pada puncaknya adalah Allah swt dan menuju kepadaNya.
Al’aql sejak penciptaannya, diperuntukkan bagi manusia sebagai khalifah Allah, sebagai makhluq yang ahsanu taqwim, al’aql hanya memiliki dan mengenal satu jalan. Yaitu shirothol mustaqiem yang secara pasti akan membawa manusia menuju Allah swt.
Jadilah beriman kepada Allah swt berarti sikap pasrah istislam dan perbuatan yang konsisten istiqomah menundukkan semua indera dan anggota tubuh yang dimiliki manusia kepada tuntunan al’aql. Bagaimana bila ada orang memilih jalan lain, menyimpang atau bahkan bertolak belakang justru katanya setelah ia menggunakan akalnya ?!
Inilah bahan renungan kajian kita semua…. Wallahu a’lamu bish-showab..