“Bahagia dihari ke 7”​ (haydar yahya diilhami dari kisah nyata) Is, seorang penyayang kucing yang sulit dicari tandingannya. Sebagai karyawan harian dengan penghasilan pas-pasan Rp 100. Ribu.- per hari, ia sisihkan Rp 3.000.- untuk enam ekor kucing kecintaannya.

Bila ke enam ekor kucingnya sudah sarapan kenyang dengan menu istimewa, berkumpul mengelilinginya berdesakan berebut duduk dipangkuannya, sambil krrrrr…krrrrr menemaninya minum kopi, Itulah pagi bahagia baginya. Kebahagiaan yang sulit dimengerti orang lain. Kucing sudah mendapat posisi jauh melampaui hak-haknya. Sementara istrinya, hidup seperti mesin.

Tenggelam dalam rutinitas tradisinya bertahun tahun. Menyiapkan makan pagi bagi anak-anaknya yang segera berangkat sekolah, belanja, memasak, mencuci pakaian, seterika dan beberes rumah. Begitulah hari-hari dalam keluarga Is. ​ Memang sudah wataknya, malapetaka seringkali datang tidak pernah terbayang sebelumnya.

Dalam beberapa hari terakhir, empat dari enam ekor kucingnya mendadak tidak mau makan dengan sebab yang tidak jelas. Is jadi gelisah. Menu khusus dihidangkan. Empat sehat lima sempurna. Susu murni, daging cincang, wortel parut, juga telor. Kucing-kucing itu tetap saja melengos tanpa selera sedikitpun dengan sorot mata yang sayu.

Hari-hari berikutnya, gerakannya melemah, tubuhnya makin kurus, tidak lagi lincah lucu seperti biasa. Bahasanya hanya pandangan kosong, seakan hendak segera mengucapkan selamat tinggal. Is bingung. Terpikir olehnya, kucing-kucingnya ini rupanya stress menahan rindu berat. Memang akhir-akhir ini, Is sering keluar kota mencari tambahan nafkah bagi keluarganya.

Karenanya dihari hari kelabu ini, ia menghabiskan waktunya lebih banyak mengurus kucingnya. Ia mengelus-elus, menyodorkan berbagai makanan, susu, sambil terus membujuk dengan janji-janji. “Tak kan pernah lagi aku meninggalkan kalian lebih dari tiga hari”, janjinya. Kucing-kucingnya tidak juga menanggapi lagi.

Berketetapan hati untuk terus mogok makan. ​ “Tidak ada jalan lain, mereka harus dibawa ke dokter” kata Is. Sang istri yang sejak tadi sibuk menyulam, nyletuk :”Bila kucing-kucing itu dibawa kedokter…itu berarti..”. :”Berarti appaa !” Bentak Is dengan suara tinggi. :”Itu berarti bulan ini kita sekeluarga mesti berhemat.

Anak-anak tidak lagi bisa sarapan Bubur Ayam, apa lagi minum susu…tapi terserahlah” Jawab sang istri menahan diri sambil menyalurkan kekesalannya pada sulamannya. ​ Walhasil, ajal tidak bisa diundur atau diajukan. Pada harinya, empat dari enam ekor kucingnya, satu persatu mati selang beberapa jam.

Is terpukul berat. Ia merasa bersalah bahkan berdosa. Kini kucingnya tinggal dua ekor. Keruan saja ia curahkan perhatian serba lebih dari hari hari sebelumnya.

Seperti kata orang, musibah seringkali datang tidak sendiri melainkan afwaja (bhs.Arab susul menyusul berbondong bondong) mengajak teman temannya. ​ Dua minggu selepas hari sedih itu, Klepon dan Tiwul, begitu nama kedua kucingnya yang tinggal, mengikuti gejala saudara-saudaranya yang almarhum. Mulai mogok makan. Is panik, stress !

Sang istri, meski tegang, berpura-pura tidak tahu apa yang dirasakan suaminya. Diam-diam, ibu tiga anak ini berandai-andai dalam hatinya “Kalau saja dua ekor kucing terakhir ini mati juga, alangkah bahagianya keluarga ini. Setidaknya biaya untuk kucing-kucing itu bisa untuk rekreasi keluarga di akhir minggu.

Juga Mirna, anak bungsunya akan sempat mendapat elusan ayahnya…semoga”. ​ Begitulah kehidupan “kullun fi falakin yasbahun” (segala sesuatu, masing masing, punya orbit, putaran kehidupan dunianya sendiri, alquran). Setiap orang punya dunianya sendiri sendiri.

Is pun dengan dunianya.​ Tiba-tiba, sang ibu mengumumkan pada ketiga anaknya :”Minggu depan kita semua akan rekreasi di Bengawan Solo yuk, sambil makan pecel karak”. Spontan disambut teriakan gembira si bungsu Mirna :” Horeee…horeee….” Suasana gembira itu hanya berlangsung beberapa detik.

Sang ayah, yang sedangi mbulet (ruwet kusut), menelan kegembiraan keluarganya dengan katanya keras :”Tidak akan ada acara kemana-mana ! Sebelum Klepon dan Tiwul sembuh”. Sambil memukul dinding triplek penyekat kamarnya. Is tersinggung. Merasa istrinya melecehkan perasaannya yang lagi gundah.

Si kecil Mirna merayap pelahan masuk ke dalam kamar, bibirnya gemetar menggumamkan do’a :”Ya Allah, semoga kucing-kucing itu mau mengembalikan ayah kami, amien”. ​ Hari itu, Jum’at, hari kelima Klepon dan Tiwul mogok makan. Kegelisahan Is makin menjadi jadi. Tak henti-hentinya ia mengelus, membujuk, mencoba memaksa kucingnya makan.

Klepon dan Tiwul menjawabnya dengan batuk-batuk, muntah, mengerang sakit, seperti keracunan. Is tidak menyerah, meski kondisi mereka semakin parah. Sabtu adalah hari keenam. Kucing-kucingnya yang lalu, mati dihari ketujuh, membayanginya menambah kepanikan. Hari ini, malam ini, adalah akhir dari segala daya upaya.

Setelah lama muram dan merenung dikamarnya, tiba tiba Is nampak lebih tenang. Sepertinya ia sudah menemukan resep mujarab. Sore itu, sebentar-sebentar ia melihat jam, ke teras rumah melihat langit, seperti orang puasa menunggu maghrib. Tiba waktu maghrib, ia sholat sendiri saja dan tetap bersimpuh di sajadah sampai waktu isya.

Selepas isya’, Is menggendong dua ekor kucingnya, mengunci diri di kamar depan.

Klepon dan Tiwul melungker rapi di pangkuannya, merintih lemas. Sorot matanya makin pudar pucat, mengambang tak bersinar, memelas (bhs.jawa minta belas kasihan) tertuju arah tuannya. Is trenyuh (bhs.jawa, hati hancur luluh) tercabik cabik miris. Is tenggelam sempurna dalam kesedihan dunianya. Seorang diri. ​ Ia menggelar sajadahnya, bersila menghadap kiblat.

Klepon dan Tiwul dibaringkan dihadapannya. Entah siapa gurunya. Ia mulai membaca qulhu (surat al ihlas dlm.al quran) dan ayat kursi (petikan beberapa ayat dari surat albaqoroh,al quran). Masing masing dibaca tujuh kali, disambung dzikir sembilan puluh sembilan asmaul-husna (nama nama Allah) untuk kesembuhan Klepon dan Tiwul, niatnya.

Sampai pada penghujung bacaan, Klepon dan Tiwul menggeliat, nungging, kakinya kejang beberapa detik dan…tidak pernah bergerak lagi. Mereka mati hampir dalam waktu yang bersamaan, tepat waktu yang telah dijanjikan. Is terpukul berat.

Terkulai lemas tak berdaya, tidak bisa berpikir apa apa lagi, menyerah sambil memandangi mayat Klepon dan Tiwul yang berbusa di sekitar bibirnya. ​ Di tengah malam buta, Is sendirian, ya sendirian, dalam senyap Is mengubur cintanya lebih dalam. Di kebun belakang rumahnya.

Klepon dan Tiwul dikuburkan. ​ Apa yang dirasakannya, apa yang ada dalam hati jiwa dan pikirannya, hanya Is dan Tuhanlah yang maha tahu. ​ “Fa inna ma’al ‘ushri yusro ..inna ma’al ‘ushri yusro”​ ( Sungguh, bersamaan dengan kesulitan, akan ada kemudahan, alquran). ​ Menjelang subuh di hari ketujuh, layaknya “lailatul-qodar” mampir di kehidupannya. ​ Dalam ketiada-berdayaannya, ia bersimpuh tafakur, sholat malam yang dihiasi isak tangis, khusuk dengan sujud panjang sampai adzan subuh terdengar.​ Tidak seperti biasanya, subuh dihari itu.

Ia bangunkan istri dan anak-anaknya dengan semangat. ​ “Ayo bangun, sholat semuanya, siap-siap, kita akan akan rekreasi ke Bengawan Solo rame-rame..ayo Mirna.. ayo…”. ​ Sambil mengusap matanya yang masih berat, Mirna bertanya pelan pada sang ayah :”Ayah….ayah..ayah, si Klepon dan Tiwul sudah sembuh ya ?”. ​ Sambil tersenyum, Is mengelus kepala Mirna penuh kasih sayang, jawabnya ramah :”Bukan Mirna….bukan sayang… ayah yang sudah sembuh”​ Do’a Mirna agaknya didengar Allah dan kucing-kucing itu rela mati untuk mengembalikan sang ayah pada anak-anaknya.