Benarkah, sebegitu ribet riweuh, jalan menuju Tuhan !?
Di jaman now, sikap keberagamaan (keislaman) dipertanyakan banyak orang. Sampai Bung AT, seorang habib, pemerhati Agama dan Politik, Cendekiawan Muslim, yang ketat dalam kehidupan keislamannya, merasa perlu menulis sebuah buku, berjudul “Buat Apa Beragama”.
Islam, tergolong sebagai agama termuda. Selama 1400 tahun ini, perkembangannya telah menjadi agama yang penuh warna. Dari warna putih sampai hitam dengan berbagai varian warna turunannya. Warna pasta lembut, warna norak ngejreng menyilaukan. Semuanya ada. Kalau dirangkum seluruhnya di satu kanvas, kira-kira akan tampak seperti lukisan abstrak mozaik.
Setiap orang yang mengamatinya, punya kesan dan pandangan pendapat masing-masing. Ada yang melihatnya mirip Merpati Putih, ada juga yang melihatnya seperti Elang Hitam, Garuda atau Kelinci bahkan Singa. Masing-masing punya dalil mendukung pandangannya.
Makhkuq apa gerangan sebenarnya? Namanya juga lukisan abstrak? Wajar saja di tataran umat, jadilah umat yang bingung. Mau apa, mau jadi apa, jadi Merpati, Elang, Garuda, Kelinci atau Singa? Terpaksa atau dipaksa, cari dalil cari pemandu, dalam setiap tingkah lakunya. Bagaimana tidak?!
Kalau Kantong Plastik, Mesin Cuci, Makanan Kucing juga bersertifikat halal. Binatang apa yang layak dipelihara, olah raga kesenian apa, busana warna apa dan bagaimana modelnya, jenggot mesti bagaimana, seberapa tinggi volume dan lembut nada suara perempuan, ilmu apa yang utama, berdagang atau industri, beristri berapa, berteman dengan siapa, sampai bagaimana bila lalat masuk ke gelas minuman, melangkah kaki kiri atau kanan lebih dahulu, lengkap dengan do’a di setiap gerakan. Sampai urusan kebijakan negara dan hubungan bilateral global internasional dstnya.
Luar biasa! Semua diyakini dan harus berdasar dalil yang baku. Bahkan, berbuat baik juga harus berdasar dalil. Kalau tidak, mau dikatakan bid’ah yang mengantar pelakunya ke neraka. Dalil, yang tidak juga jelas maknanya, kapan dan bagaimana lahirnya sehingga bisa disimpulkan demikian. Dengan dalil itu pula, akal sehat mudah dikesampingkan.
Akibatnya, setiap kelompok sibuk mencari dalil, sebagai pembenaran pendapatnya. Darimana sumber dalil, tidak lagi penting. Yang penting sesuai dengan pendapatnya. Kesibukan mencari dalil membuahkan hasil. Setiap kelompok, dapat saja menemukan dalil-dalil yang dicarinya sesuai seleranya.
Ironinya, dalil-dalil itu, bukan saja tidak sama, bahkan bisa bertentangan satu sama lain. Dalil-dalil itu, bisa melahirkan Kerajaan Kesukuan Tiran. Di saat yang sama, bisa juga melahirkan Republik Islam. Tidak jarang, dalil wa ma adroka ma dalil, jadi pemicu permusuhan bahkan pembunuhan.
Perang antar sesamanya. Sesama bangsa juga seagama. Pemicunya karena berbeda dalil. Sejarah mencatat itu. Meski demikian, semua seragam, koor mengatakan pendapatnya berdasar Al-Qur’an dan Sunnah.
Begitulah kita saksikan potret kehidupan keberagamaan kaum muslimin secara umum. Islam yang generik, dibawa oleh Rasulullah saaw, sejak awal dikenal sebagai ajaran yang mudah, sederhana dan indah. Kini dipahami bahkan diyakini, dalam artian mengatur mengikat setiap gerak gerik jalan kehidupan manusia.
Sementara sunnatullahnya, masyarakat manusia selalu berubah berkembang, unik, komplek dan tidak terduga. Politik sosial ekonomi budaya di sepanjang masa, wajib berdasar dalil yang baku. Berdasar riwayat yang diyakini masing-masing kelompok. Lengkap dengan kalimat pamungkas akhirnya, semua itu harus dijalani secara kaffah (total) agar bisa mencapai surga.
Keyakinan pemahaman seperti itu, telah membuat banyak orang menjadi pengap gerah. Merasa hidup dalam belenggu pasung yang ketat. Menurunkan harkat kemanusiaan yang Tuhan menciptakannya sebagai makhluq merdeka. Melecehkan, menyia-nyiakan akal sebagai karunia agung Ilahi. Yang selayaknya disyukuri, karena dengan akal, jadilah manusia sebagai satu-satunya makhluq yang layak menjadi “khalifah"Nya.
Akal tidak lagi mendapat tempat yang adil. Bahkan tidak jarang diposisikan sebagai tertuduh penyebab kekufuran. Karenanya Akal harus dilumpuhkan!
Dalam berbagai kesempatan diskusi. Respon Generasi millenial, bernada sumbang. Benarkah, sebagai seorang muslim, untuk menjalani hidup secara baik, kok sampai sebegitu sulitnya.
Di era global dewasa ini, dimana kita mendesak membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, agama dengan pemahaman seperti diatas, lebih menjadi beban berat tambahan. Pada gilirannya akan memastikan keterpurukan dalam persaingan global umat manusia.
Habis waktu tenaga pikiran, sekedar cari dalil cari pemandu, bagaimana menjalani hidup dan menjadi orang baik. Bisa-bisa habis umur, belum sempat berbuat apa-apa, karena dalil juga pemandu yang pas belum didapat.
Benarkah, sebegitu ribet riweuh, jalan menuju Tuhan !?
Jawabnya, cari aja sendiri…
(dari catatan hy 171121)