BerIslam atau BerMadzhab !?

BerIslam Sepenuhnya. Bermadzhab Apa Saja. Campur-Campur. Ganti madzhab. Mengapa Tidak !? Karena madzhab bukan agama!

Sejak semula, tidak ada diantara Para Imam Madzhab bermaksud menjadikan madzhabnya sebagai agama. Pesan Imam Syafi’i yang populer misalnya, secara tegas menyatakan kurang lebihnya,

“bila ditemukan kebenaran (diluar madzhabku) itulah madzhabku. Dan buanglah pendapatku dibalik dinding”.

Disadari atau tidak, muslimin secara umum, telah terjebak dalam banyak tempurung. Meski sempit, pengap, penuh belenggu, tidak bosan. Anehnya malah makin krasan. Ajibun kata para santri.

Di mimbar, para ustadz/habib, suara madzhab lebih nyaring terdengar. Suara Islam, hanya sayup-sayup, bahkan nyaris tenggelam. Wajar saja, kalau orang kemudian bertanya, bingung. BerIslam atau bermadzhab?

Kita tidak boleh mengganti Islam, agama kita, dengan mazhab apapun! Aswaja, Syi’ah Wahabi, semua juga sekedar mazhab. Mazhab, adalah hasil penafsiran ijtihad manusia ulama. Bagaimanapun hebatnya mazhab, tetap saja bukan wahyu ilahi yang wajib kita imani. Adalah naif, mengikatkan diri secara mutlak pada sesuatu yang jelas-jelas tidak mutlak.

Adanya Berbagai mazhab, apapun namanya. Kita tidak perlu gusar. Sebuah mazhab yang bathil akan ditinggalkan orang dan punah ditelan zaman. Yang tersisa hanyalah catatan sejarah tanpa penganut. Sementara Islam, adalah wahyu Allah yang wajib kita terikat secara mutlak dan tidak akan pernah tergantikan oleh mazhab apapun sampai hari kiamat.

Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaihi. Islam senantiasa unggul dan tidak akan pernah ada yang mengunggulinya. Kehadiran Islam dan Rasulullah saw, adalah bukti nyata campur tangan Allah untuk menyelamatkan ummat manusia. Tentunya bagi yang mau diselamatkan. Bagaimana mungkin, (afwan) mensetarakan Islam dengan mazhab !? Coba direnungkan…

Ukhuwwah islamiyah, diwajibkan Islam secara terang benderang. Berpegang pada mazhab masing-masing sesuai pilihan kemantapan hati, silahkan saja. Tapi jangan justru menimbulkan petaka dan meninggalkan kewajiban keislaman kita ber-ukhuwwah. AlQur’an mengajarkan kita, jangan karena kebencian terhadap suatu kaum, membuat kita berlaku tidak adil. Apalagi menyebar dusta dan fitnah. Itu berdosa besar.

Saya percaya, bila para imam mazhab tahu, akibat fatwanya ummat akan hidup layaknya (afwan) hewan di “kandang-kandang” dan saling berseteru bila bertemu karena berbeda “kandang”, niscaya para imam yang luhur dan mulya itu akan memilih diam.

Selamat berIslam sepenuhnya, bermazhab sekedarnya. Salamullah ‘alaikum jami’an….

Yang like, monggo share langsung sebagai amal cinta Islam kita…