CINTA yang diabadikan dalam al-quran Cinta selalu menarik sebagai objek cerita. Banyak penyair, sastrawan berimajinasi menciptakan syair, puisi, novel, roman, qoshidah, nasyid terkait cinta. Umumnya fiktif. Sekedar imajinasi sang penyair. Cinta dan kisah perjalanannya senantiasa indah. Berawal dan berakhir indah. Meski suka, meski duka.

Meski ada derita, meski ada pengorbanan, tetap saja indah. Cinta memang makhluq yang unik. “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan”* (Alhadits). Karenanya diciptakannya cinta. Dengannya semua jadi indah. Cinta dalam catatan ini, adalah kisah nyata yang benar-benar terjadi, meski telah ribuan tahun berselang.

Zakaria ‘alaihis salam gelisah di tahun dan hari-hari terakhir hidupnya. Ia mulai merasakan tulang-tulangnya melemah. Rambutnya yang putih mengkilat laksana perak, memberi isyarat waktu kembalinya semakin mendekat. Ia Lebih sering mengamati orang-orang terkasih disekitarnya. Istri, keluarga dan kerabatnya yang sangat dicintainya.

Pikiran dan hatinya terusik.Cemas. Bisikan tak henti mengiang di telinganya. :” Wahai Zakaria, semua yang kau cintai sayangi sepenuh hati itu, akan kau tinggalkan tidak lama lagi. Betapapun besar cinta kasih sayangmu. Betapa besar keinginanmu untuk tetap bersama mereka.

Tidak akan menghalangi apa yang telah menjadi ketetapan Allah swt. ”Kullu nafsin dza’iqatul maut / Setiap kehidupan senantiasa beriringan dengan kematian”. Bisikan itu melipat-gandakan kecemasannya.

Dalam perenungannya, bertubi-tubi berbagai pertanyaan muncul mengerubutinya. Kekasih dan kecintaannya, senantiasa membayang di pelupuk matanya yang kini kerap kali basah berkunang-kunang. Pikirnya :”Adakah mereka tau jalan kemana ?! Jalan terjal berliku dan seringkali gelap !? Adakah pelita yang akan menerangi mereka ?

Adakah pembimbing yang kelak menuntun mereka ?! Pertanyaan-pertanyaan itu menyudutkannya tanpa daya. Kekhawatirannya memuncak, saat disadarinya bahwa dirinya,meski selaku seorang Nabi, ternyata berada dalam ketiada-berdayaan yang sempurna. Dalam keadaan terpojok, cintanya bangkit. Dan memang, hanya cinta satu-satunya yang ia miliki.

Ia mendatangi cinta sejatinya, mengiba, meratap, memelas dengan suaranya yang syahdu, parau, penuh harap terbata-bata, katanya :”Tuhanku, sungguh aku telah tua renta, tulang-tulangku rapuh sudah, rambut di kepalaku ini telah berkilat putih ketuaan, tiada pula aku enggan bermohon padaMu Wahai Tuhanku.

(karena hanya Engkaulah tempatku memohon)” (surat Maryam ayat 4). Lanjutnya lagi :” Tuhanku, sungguh aku cemaskan bagaimana keadaan orang-orang yang kucintai sepeninggalku, sementara istriku mandul, aku telah mencapai usia tua renta. Anugrahilah aku keturunan dariMu sebagai wali pelindung mereka, selaku penerusku (membimbing mereka)” (surat Maryam ayat 5).

Sesuai kehendak Allah swt, Zakaria ‘alaihis salam, berpyasa bicara. Selama tiga hari tiga malam tidak berkata-kata sepatah katapun. Ia menghabiskan waktunya bertasbih kepada Allah swt. menyertai harapan dan do’anya…

Pada saatnya, Zakaria ‘alaihis salam, keluar dari mihrabnya menemui kaumnya. Ia memberi isyarat meminta mereka semua agar senantiasa bertasbih memuja Allah pada pagi dan malam hari” (Surat Maryam ayat 10, 11). Dan turunlah wahyu Allah swt :”Ya Zakaria, Kami sampaikan padamu berita gembira, bahwa kamu akan memperoleh seorang putera yang aku beri nama Yahya.

Sebuah nama yang belum pernah ada sebelumnya” (Surat Maryam ayat 7). “Wahai Yahya berpegang teguh kukuhlah pada Kitab Allah dan Aku berikan padanya kebijakan hikmah sejak kanak-kanak” (Surat Maryam ayat 12). Zakaria ‘alaihis salam, sepertinya tidak mampu menangkap kemaha-besaran kekuasaan Allah yang mustahil bagi dirinya.

Tanpa disadarinya Zakaria spontan berucap, karena berita yang tak terbayangkan sebelumnya. :”Ya Robbi, bagaimana mungkin aku dapat memperoleh putera, sementara istriku mandul dan usiaku yang tua renta ini !?” (surat Maryam ayat 8). Allah swt, meyakinkan dengan firmannya :” Demikianlah wahai Zakaria, bila Aku menghendaki, pasti akan terjadi.

Itu adalah perkara mudah bagiku. Bukankah Aku telah menciptakan engkau sedang sebelumnya kamu tidak ada, sedang engkau bukan apa-apa !?” (Surat Maryam ayat 9). Kegelisahan,kecemasan, kekhawatiran yang bertahun menyelimuti Zakaria ‘alaihis salam, berubah menjadi kebahagiaan dan ketentraman. Kini, Ia bisa berdiri tegap tanpa keraguan sedikitpun.

Melangkah gagah melanjutkan perjalananannya sendiri. Benar-benar sendiri ! Tidak ada lagi yang mengusik hati dan pikirannya. Ia tinggalkan semua kecintaannya yang dibumi dan pulang dengan penuh gairah menemui kecintaannya yang di langit.

Begitulah Zakaria ‘alaihis salam. Ia tidak gelisah karena ajalnya yang sudah dekat. Ia tidak mengiba memohon agar dikuatkan tulang-tulangnya yang rapuh. Ia tidak meminta agar bisa mendampingi orang-orang yang dicintainya lebih lama. Bahkan sedikitpun tidak tersurat, juga tersirat kehendaknya memohon penangguhan kepulangannya.

Bukan karena ia kurang mencintai istrinya, kerabat dan kaumnya. Kecintaannya pada semua itu telah dinyatakannya secara jelas. Namun kecintaan pada kekasihnya yang Esa telah mengajarkannya, bagaimana menempatkan cinta-cintanya kepada selainNya. Bagi para pencinta sejati, masa penantian yang lama (hidup) dirasakan lebih sebagai derita kerinduan yang berat.

Bahkan lebih dirasakan sebagai kematian daripada sebagai kehidupan. Kematian bagi seorang pencinta dan perindu sejati, diimaninya sebagai kehidupan yang lebih nyata.. Tempat pertemuan para kekasih yang telah lama mengikat janji untuk bertemu. Alangkah indahnya kematian seperti itu. Kematian dimana ada cinta didalamnya.

Begitulah cinta berperan dalam kehidupan dan kematian. Zakaria, Ibrahim, Isma’il ‘alaihimus salam, telah memperagakan cintanya dan Allah swt mengabadikannya untuk diteladani bagi manusia yang beriman. Do’a do’a cinta mereka didengar dan dikabulkan Allah swt. Ratusan bahkan ribuan tahun sepeninggalnya, tidak sedikit manusia yang mengikuti jejaknya.

Sebagian mereka dikenal dan dicatat sejarah. Dan lebih banyak lagi yang diam-diam sendiri menikmati kebahagiaan perjalanan cintanya. Mereka adalah murid, pengikut setia, pencinta sejati, pewaris Rasulullah Muhammad sholawat Allah atasnya dan Ahlul Baitnya yang suci. “Kamu senantiasa akan bersama dengan kecintaanmu”. Begitu sabda Nabi.

Semoga kita diridhoi dirahmati dan termasuk salah satu diantaranya. Catatan : Terjemahan ayat alquran yang ada dalam catatan kecil ini tidak tekstual kata perkata.Melainkan terjemahan bebas, dengan tetap menjaga inti dari makna ayat. *Sesungguhnya Allah Maha indah dan mencintai keindahan” ( HR. Muslim dari Ibnu Mas’ûd ).⁠ (Dari Catatan HY,January 2020)