Islam, Nama Generik Semua Agama Samawi ( Tinjauan Dari Perspektif Al-Qur’an, Bukan tinjauan Fiqih) (Seyogyanya para pemeluk agama Ahlul-Kitab (Yahudi, Nasrani) menyimak Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an juga untuk mereka.)
Sebagai sebuah agama, Islam (sesuai Al-Qur’an), memiliki perbedaan sangat mendasar dengan berbagai agama yang dikenal dunia.
Pada umumnya para pemeluk agama berpandangan, bahkan juga diantara para pemeluk agama samawi (Yahudi, Nasrani), meski sama-sama beriman kepada Allah Yang Maha Esa, namun percaya, antara satu Utusan Allah dengan Utusan Allah yang lain, juga kitab Allah satu dan lainnya, bukanlah sebagai satu kesatuan pesan yang berkesinambungan.
Melainkan, tidak terkait satu sama lain. Agamaku dari Tuhan dan agamamu dari setan. Kira-kira, ringkas sederhananya begitu. Akibatnya, alih-alih bisa hidup harmoni sesama umat beragama, malah memiliki kecendrungan saling menegasikan pengakuan kehadiran dan kebenarannya satu sama lain.
Tanpa disadari, seperti seringkali kita saksikan, agama Allah yang luhur ini, menjadi tampak rentan sebagai pemicu konflik, penghujatan, kebencian, permusuhan, perseteruan, pembunuhan, bahkan perang antar dan diantara sesama pemeluk agama Allah.
Pada saat itu terjadi, tidak bisa diingkari, bila banyak orang kemudian secara sederhana menyimpulkan, “agama“ telah gagal, bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan mendasar manusia, selayaknya makhluq sosial. Pastilah tidak demikian halnya, bila agama dipahami sesuai ajaran dan kehendak Allah Swt. Islam dari perspektif Al-Qur’an, justru sebaliknya.
Al-Qur’an mengakui kehadiran, sekaligus menerima kebenaran semua agama samawi, kenabian, kerasulan, selayaknya penyampai pesan Allah. Bahkan merupakan kewajiban keimanan bagi seorang muslim. Lebih dari itu, Islam bahkan mengakui hak hidup berbagai pandangan hidup yang lahir sepanjang sejarah manusia.
Sebagaimana Islam mengakui kehadiran berbagai ragam suku bangsa dan budaya sebagai sunnatullah yang sengaja diciptakan demikian.
Al-Qur’an menyebut Allah, bukan sebagai Allah Islam, Nasrani atau Yahudi, atau yang lain, melainkan Allah Semesta Alam, Robbul ‘Alamien. (Al-Qur’an, Surat Al-Fatihah 1 : 2) (1). Rabbun-Nas, Allah umat Manusia (Surat An-Nas 114 : 1,2,3) (2). Menyebut RasulNya, sebagai Rahmatan lil ‘Alamien, Rahmat bagi Alam Semesta. (Surat Al-Anbiya’ 21 : 107)(3).
PesanNya ditujukan kepada seluruh alam semesta (Surat At-Takwir 81 : 26,27) (4). Siapa saja yang beriman dan menyembah Allah di alam semesta ini, bisa dipahami sebagai menyembah Allah Semesta Alam, Allah yang Esa. Siapa saja yang yang hidup dalam alam semesta ini, Rasulullah Saw, sebagai utusan Allah, adalah rahmat baginya.
Terkecuali, bagi mereka yang berada di luar alam semesta ini. Jadilah Islam sebagai sebuah agama inklusif yang unik ! Meski dikenal sebagai agama terakhir, namun, ajarannya selayaknya induk, ibu dari semua agama samawi.
Bahkan Ibrahim ‘alaihis-salam, yang dikenal sebagai Bapak Tauhid / Bapak Monotheisme semua agama samawi, dinyatakan sebagai penganut ajaran Islam yang hanif, yang bertauhid dan tidak menyekutukan Allah (Surat Ali-Imran, 3 : 67) (5).
Apabila seluruh anbiyaa’ dan rusul, Para Nabi dan Para Rasul, sejak Nabi Adam sampai Rasulullah Muhammad Saw, dipercaya sebagai pemeluk, penganut ajaran Islam (Al-Qur’an), pertanyaannya, “Islam” yang bagaimana yang dianut oleh lebih ratusan ribu Nabi dan Rasul pada zamannya itu !?
Pastilah Islam yang dimaksud, merujuk pada substansi makna yang terkandung dalam kata Islam, yaitu penyerahan diri, kepatuhan sepenuhnya hanya kepada Allah Yang Maha Esa, yang merupakan ushulud-din, pokok agama yang utama, sentral doktrin dari semua agama samawi, agama Allahu Ahad.
Selayaknya agama samawi pamungkas, Rasulullah Muhammad Saw, Khotamul Anbiya wal Mursalin, pembawa pesan kitab suci Al-Qur’an, kitab Allah terakhir nan sempurna (Surat Al-Maidah 5 : 3) (6), untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang berkembang semakin kompleks di sepanjang masa. Pesan utamanya senantiasa bersifat universal.
Al-Qur’an mengisyaratkan secara kuat, tidak satupun kaum, kelompok manusia di jagat raya ini, dimana Allah tidak mengirimkan Nabi, Rasul pembawa pesanNya. (Surat Asy-Syu’araa 26 : 208 dan Al-Qashas 28 : 59) (7). Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara satu Nabi, Rasul, dengan Nabi, Rasul yang lain. (Surat Al-Baqoroh 2 : 136, Al-Imran, 3 : 84) (8).
Seluruhnya wajib dipercaya dan diimani, bahkan diakui kehadiran
dan kebenarannya. Bukankah, tidak ada selain kebenaran yang datang dari Allah !? (Surat Al Baqarah 2 : 147) (9). Al-Qur’an bahkan juga menyatakan, kewajiban mengimani Kitab-Kitab Para Rasul terdahulu sebelumnya (Surat Ali-Imran, 3 : 3) (10).
Karena itu pulalah Al-Qur’an secara tegas menyatakan “Tidak ada paksaan dalam agama…." (Surat Al-Baqarah, 2 : 256 ) (11). Semua agama samawi datang dari Allah yang sama, Allah yang Maha Esa. Mengapa mesti saling memaksa, memperebutkan pengikut ?! Coba renungkan Al-Qur’an, surat Al-Maidah 5 : 48 (12).
Terselip kalimat sangat tegas,”….sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah jadikan kamu (semua), sebagai umat yang satu, akan tetapi Allah berkehendak mengujimu atas apa (pesan) yang telah Allah sampaikan …..dstnya”.
Ayat ini diakhiri dengan “berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan, kepada Allah kalian semua akan kembali, dan Allah akan memberitahukan apa-apa yang kamu perselisihkan”. Sangat nyata pesan ini tertuju kepada semua yang menerima Al-Kitab Allah, termasuk yang selama ini dipahami sebagai muslimin. Al-Qur’an, (Surat Ali-Imran 3 : 64) (13).
Bagaimana indahnya, ajakan Al-Qur’an kepada Ahlul-Kitab. Pesan penuh kedamaian. Ajakannya sederhana, sekedar bertemu pada titik temu doktrin sentral semua agama Ahlul Kitab, hanya menyembah dan berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa. Mengapa ? Nama, bukanlah substansi. Islam pada hakikatnya adalah sebuah nama generik dari semua agama samawi.
Islam lebih dari sekedar nama, Islam dari perspektif Al-Qur’an, lebih merujuk pada sebuah ajaran, tuntunan jalan keselamatan kembali menuju Allah Swt. Berbagai arti makna dilekatkan pada kata Islam. Antara lain keselamatan, kedamaian, penyerahan, keta’atan.
Kata Islam dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf, sin, lam, mim, ( سلم/salama) memang mengandung semua makna diatas. Sangat banyak ayat-ayat Al-Qur’an, dimana terdapat kata dengan huruf dasar sin lam mim dalam berbagai ragam bentuknya sesuai konteks kalimatnya, antara lain aslama, aslim, Islam, silm, muslimun, mustaslimun dll.
Dalam berbagai surat dan ayat, antara lain : (Al-Anfal,8 : 61 (salmi); Ash-Shoffaat, 37 : 26 (mustaslimun); Al-Baqarah, 2 : 112 (aslama),128 (muslimaini/muslimatan), 131 (aslim/aslamtu), 133 (muslimun), 208 (silmi); Ali Imran, 3 : 19 dan 85 (Islam); Asy-Syu’ara 26 : 89 (salim); Yusuf 12 : 101 (musliman); Al-Maidah 5 : 44 (aslamuu) (14).
Secara umum, kata-kata tersebut dalam ayat-ayat itu, seringkali dipahami sebagai menunjuk merujuk terkait kelompok agama tertentu, yaitu yang disebut agama Islam atau umat Islam. Namun bila dicermati, rasanya lebih tepat dipahami sebagai merujuk kepada sikap taslim, sikap berserah diri, sikap patuh ta’at kepada Allah Swt.
Dan yang menarik, saya tidak bisa temukan sapaan seruan yang berbunyi Ya Ayyuhal-Muslimun yang bisa dimengerti secara khusus menunjuk pada kelompok “muslimin”.
Sementara seruan Ya Ayyuhal-ladzina amanu yang berkonotasi umum, terdapat dalam sangat banyak ayat dan surat ( 89 kali dalam 66 surat ) dan mencapai ribuan kata dalam berbagai bentuknya yang berakar kata terkait keimanan.
Dari ayat-ayat tersebut diatas, Islam lebih tepat dipahami sebagai sebuah ajaran Allah, petunjuk, tuntunan, jalan keselamatan, meliputi cara manusia menjalani interaksi dalam hidup dan kehidupan menuju pulang, kembali keharibaan Allah Semesta Alam.
Dengan menuntut kesadaran sikap, niat setulus pengabdian, penyerahan ( taslim / berIslam ) total, secara suka rela sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. Demi menciptakan kedamaian kebaikan bagi alam semesta selayaknya khalifah Allah di bumi.
(Surat Al-Baqarah 2 : 30; Surat Adz-Dzariyaat 51 : 56).(15) Sikap kepasrahan penuh kesadaran, penyerahan diri setulusnya dan keyakinan semacam itulah, yang disebut sebagai berislam dan kemudian beriman. Siapa saja yang menjalani hidup keimanan seperti itu, dia berada di jalan Allah, sesuai ajaran Al-Qur’an. Apapun sebutan nama agama yang dianutnya.
Nama-nama itu, meminjam ungkapan Haidar Bagir, sekedar Islam Manusia, Nasrani Manusia dan Yahudi Manusia. Itu pula, mengapa Allah menyatakan laranganNya, tidak ada paksaan dalam agama, karena yang dimintaNya adalah setulusnya penyerahan/berIslam, bertaslim kepadaNya.
Sampai disini, pastinya banyak yang bertanya, bagaimana mungkin, agama Yahudi, Nasrani, saat ini masih layak disebut Ahlul-Kitab !? Bukankah ajaran keyakinan agama mereka sudah menyimpang dari Injil dan Taurat yang semula diturunkan Allah ?!
“Masihkah Sebagai Ahlul-Kitab, Yahudi dan Nasrani Dewasa Ini, !?” Seperti disebutkan diatas, Al-Qur’an mengakui kehadiran, memercayai, kitab-kitab suci terdahulu, bahkan meyakini kebenarannya tanpa kecuali. Tidak juga membeda-bedakan kenabian, kerasulan, para Nabi, Rasul sebagai pembawa pesan Allah (Surat Al-Baqarah 2 : 136 , Al-Imran 3 : 84 ). (16)
Masalahnya kemudian, yang sering dipertanyakan secara umum, apakah pengakuan seperti dinyatakan dalam Al-Qur’an itu, dewasa ini masih layak menjadi dasar sikap “pembenaran” terhadap Yahudi dan Nasrani sebagai Ahlul-Kitab ?
Sementara diyakini pula dan dinyatakan secara jelas pula dalam Al-Qur’an, telah terjadi perubahan-perubahan, distorsi pada kitab sucinya dan keyakinan ummatnya !? (Surat Al-Maidah 5 : 72, 116, 117) (17).
Di saat yang sama, seorang muslim juga wajib meyakini, bahwa tidak ada pertentangan ayat satu dengan ayat yang lain dalam Al-Qur’an (Surat An-Nisaa’ 4 : 82) (18).
Al-Qur’an, bahkan menjadikan, tiadanya pertentangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang terangkum dalam 30 juz, 114 surat dan 6236 ribu ayat itu, sebagai diantara bukti kebenaran bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah Swt.
Dapat disimpulkan, bahwa Al-Qur’an secara keseluruhan adalah utuh, merupakan satu kesatuan, bangunan ajaran, pemikiran, informasi yang saling mendukung setiap kandungan yang ada didalamnya dan tidak akan pernah terjadi saling melemahkan apalagi bertentangan di dalamya.
Adalah nash, dalam Al-Qur’an, ditemukan ayat-ayat yang memuji Ahlul-Kitab, bahkan secara eksplisit menyatakan, sebagian dari mereka (Ahlul-Kitab) sebagai orang-orang yang sholeh, yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan Allah akan memberinya pahala.
Secara jelas, tersebut dalam surat Ali-Imran 3 : 75, 113, 114 dan 115, surat Al-Maidah 5 : 69. Bahkan dalam Surat Al-Maidah 5 : 5 (19), secara jelas Al-Qur’an menyatakan adalah halal bagi muslimin mengkonsumsi sesembelihan Ahlul-Kitab. Dibenarkan seorang muslim menikahi wanita Ahlul-Kitab. Membuktikan Al-Qur’an memperlakukan Ahlul-Kitab secara khusus.
Sementara seperti diketahui, pada saat Al-Alqur’an diwahyukan, bukankah distorsi, perubahan, penyimpangan dalam Kitab Injil, Taurat telah terjadi ? (Surat Al-Maidah 5 : 73, 116, surat Al-Mu’minun 23 : 91, juga seluruh surat Al-Ikhlash (20). Al-Qur’an tetap saja menyapanya dengan sebutan Ya Ahlal-Kitab.
Sangat berbeda dengan kelompok yang disebut sebagai orang-orang kafir.
Allah menyapanya dengan tegas, Ya Ayyuhal-Kafirun (Hai, orang-orang kafir), seperti dalam seluruh ayat dari surat Al-Kafirun (Surat ke 109).(21) Dalam perkembangannya, pemahaman penjabaran yang meski sangat rumit, kompleks terkait Trinitas, kaum Nasrani mengarah pada keimanan Keesaan Tuhan (Tauhid).
Pemeluk Agama Nasrani, bukan saja mengaku sebagai mengikuti ajaran tauhid, duniapun mengakui Agama Nasrani berada dalam kelompok agama monotheisme.
Mudah dipahami, bahwa ayat-ayat dalam Al-Qur’an terkait Ahlul-Kitab (Nasrani, Yahudi), lebih sebatas koreksi, peringatan, atas distorsi yang telah terjadi, terutama dalam keimanan Trinitas kaum Nasrani dan bukan berarti mengingkari, lebih-lebih menolak, menentang, mengeluarkan mereka sebagai pemeluk agama samawi yang disebut Ahlul-Kitab.
Meski terdapat pula teguran peringatan dan ancaman. Tidak berbeda, teguran, peringatan, ancaman yang sama pula, bisa ditemukan tertuju pada orang-orang beriman secara umum. Kalaupun akan dipahami bahwa sebutan orang-orang beriman itu dimaksudkan sebagai khusus ditujukan kepada kaum muslimin, pengikut Rasululullah Muhammad Saw.
(Surat Ali-Imran 3 : 156 , An-Nisaa’ 4 : 29, 136 - 137 ).(22) Sapaan Al-Qur’an kepada Ahlul Kitab, menggunakan sapaan penuh hormat dengan sebutan Yaa Ahlal-Kitabi (Wahai Penerima Pesan Ajaran Kitab Allah). Tidak berbeda dengan sebutan yang tertuju kepada orang-orang beriman dengan seruan Ya Ayyuhal-ladzina Amanu (Wahai Mereka Yang Beriman).
Kembali pada subjek “Masihkah Sebagai Ahlul-Kitab, Yahudi dan Nasrani Dewasa Ini ?”. Pertanyaan itu muncul, dikarenakan selama ini, terkesan kuat dalam pandangan umum muslimin, Al-Qur’an hanya diperuntukkan bagi kaum muslimin saja (Baca Pengikut Rasulullah Muhammad Saw) dan tidak pada selainnya.
Sedang Al-Qur’an sangat jelas, juga diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia. Pastilah termasuk yang disebut Ahlul-Kitab (Yahudi dan Nasrani). Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang ditujukan langsung dengan seruan Ya Ahlal-Kitab. Sekedar contoh, ( Surat Ali-Imran 3 : 64 , 98, 99 ) (23).
Tidak salah kiranya, bila penulis cenderung meyakini, bahwa Al-Qur’an bisa juga disebut sebagai kitab suci terakhir bagi Ahlul-Kitab (Yahudi, Nasrani, Islam). Seyogyanya Ahlul-Kitab juga menyimak Al-Qur’an, karena Al-Qur’an menyapa mereka dengan hormat dan kasih.
Coba kita tadabburi (simak) ayat-ayat Al-Qur’an yang ditujukan kepada Ahlul-Kitab, seperti dalam surat Al-Maidah 5 : 68, 69, 75, 76, 77.(24). Ada informasi, teguran, peringatan, ancaman, kesemuanya tersurat dan tersirat kuat semangat pendekatan dialogis dan bukan konfrontatif.
Pendekatan yang sama pula bila Al-Qur’an menujukan pesannya kepada orang-orang beriman, bila orang-orang beriman itu dipahami secara khusus sebagai muslimin. Coba renungkan seluruh ayat dalam surat Al-Kafirun dan bandingkan dengan ayat-ayat terkait Ahlul-Kitab. Sangat nyata perbedaan perlakuan Al-Qur’an kepada al-kafirun (orang-orang kafir) dan Ahlul-Kitab.
Terhadap Ahlul-Kitab, Al-Qur’an melakukan pendekatan dengan semangat dialogis, menjaga hubungan baik, mencari titik temu, berbeda dengan kepada al-kafirun (orangt-orang kafir). Al-Qur’an tidak lagi bertdialog. Tidak lagi mencari titik temu pandangan.
Melainkan menarik garis jelas dan tegas, seperti tampak dalam seluruh surat Al-Kafirun (21) yang diakhiri dengan ayat lakum dienu-kum waliy-adien sebagai kata putus. Bagimu keyakinanmu dan bagiku keyakinanku. Bagaimana dengan Surat Al-Baqarah 2 : 120 ? (25).
Ayat ini penulis anggap penting disisipkan agar disimak secara khusus, karena sangat populer dan banyak dihafal di kalangan muslimin secara umum. Selalu ditulis, dikutip, dalam setiap khutbah taushiyah terkait Ahlul-Kitab. Selama ini, secara umum diyakini sebagai pedoman utama dalam bermu’amalat, interaksi dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Shodaqallahul’adzim.
Maha Benar Allah dengan segala firmanNya. Ayat tersebut wajib bagi kita semua muslimin menjadikannya sebagai pedoman. Hanya saja, wajib pula, bagi kita bersungguh-sungguh mengkaji, kelompok Yahudi, Nasrani yang manakah kiranya yang dituju oleh ayat dimaksud !?
Sehingga jangan kita terjebak mengikuti hawa nafsu, menerima ayat satu karena sesuai keinginan dan mengabaikan ayat yang lain karena berbeda dengan pendapat pikiran kita.
Al-Qur’an secara jelas, menyatakan bahwa dalam kelompok Ahlul-Kitab (Yahudi dan Nasrani), tidak berbeda dengan yang dianggap atau mengaku sebagai kelompok orang-orang beriman, terdapat kelompok yang baik dan terdapat pula kelompok yang buruk. Sebagaimana dapat dilihat dari ayat-ayat yang telah kami sebutkan diatas.
(Al-Qur’an, Ali-Imran 3 : 75, 113, 114 dan 115, surat Al-Maidah 5 : 69) (19). Akankah ayat-ayat pujian terhadap Ahlul-Kitab tersebut layak diabaikan begitu saja dengan berbagai argumen pembenaran, tafsir yang bersifat spikulatif, sementara Al-Qur’an wajib diimani sebagai menyampaikan kebenaran yang berkepastian !?
Al-Qur’an juga mengingatkan, agar berlaku adil, bahkan terhadap kelompok yang tidak disukai (Surat Al-Maidah 4 : 8) (26). Terlebih lagi tentunya, kepada yang Al-Qur’an menyebutnya dengan penuh hormat, sebagai Ahlul-Kitab. Dalam ayat 120 surat Al-Baqarah diatas, terdapat perbedaan nyata dengan ayat-ayat lain yang berhubungan dengan Ahlul-Kitab.
Bila di ayat-ayat tersebut (19), Al-Qur’an menggunakan sapaan “Ya Ahlal-Kitab” dengan menyertakan berbagai pujian, tidaklah demikian sebutan yang digunakan dalam ayat 120 surat Al-Baqarah (25).
Hal ini mengesankan secara kuat, kelompok yang dituju ayat ini adalah kelompok Yahudi, Nasrani yang bersikap dan berlaku buruk, membenci, memusuhi, memerangi Nabi Saw. Tidak ada pujian Al-Qur’an disitu. Sebagaimana kita saksikan, meski Rasulullah Muhammad Saw telah diutus sebagai rahmat bagi alam semesta, membawa Kitab Allah Al-Qur’an yang merupakan pesan
terakhir, peringatan, huda, petunjuk jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia, tetap saja Allah Maha Pengasih Maha Penyayang, memanjakan, memberikan kebebasan memilih jalan bagi khalifahNya. FirmanNya dalam surat Al-Maidah 5 : 99 dan Al-Kahfi 18 : 29.
(27) Pada saat petunjuk, teguran, peringatan, ancaman Al-Qur’an diabaikan dan terjadi perselisihan diantara sesama para pengikut agama Allah, juga sesama umat manusia, maka Allah menyatakan, kelak Allahlah yang akan menetapkan apa-apa yang diperselisihkan itu ( Surat Al-Baqarah, 2 : 113, Surat Al-Maidah 5 : 48, An-Nisaa’ 4 : 59 , Asy-Syuro 42 : 10 .
(28) Sesuai ayat-ayat Al-Qur’an diatas (Surat Al-Maidah 5 : 48) (28), beban tanggungjawab sebagai hakim pemutus, siapa di jalan lurus, siapa di jalan menyimpang, siapa salah, siapa benar, siapa berada di jalan sesat, siapa di jalan Tuhan, diambil alih Allah Swt. Agaknya, tugas itu melampaui kemampuan manusia untuk mengembannya.
Surat Al-Fatihah 1 : 6 (1), ihdinash-shiratal mustaqim (tuntunlah kami senantiasa berada di jalan lurus), menjadi lebih mudah dipahami. Karena siapapun para pengikut Ahlul-Kitab, bisa salah jalan. Termasuk yang telah disebut dan mengaku sebagai muslimin.
Sejujurnya, tidak ada agama apapun dalam perjalanan sejarah perkembangannya yang terbebas sepenuhnya dari distorsi. Bahkan, termasuk agama Islam, meskipun sebagai agama termuda dan terakhir. Benar, Al-Qur’an selayaknya wahyu, kalam ilahi, dipercaya terbebas dari distorsi sekecil apapun sebagai kewajiban keimanan seorang muslim (Surat Al-Hijr 15 : 9 ). (29).
Namun, sebagaimana diketahui, pedoman utama keimanan seorang muslim, adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. As-Sunnah, disepakati oleh seluruh muslimin dari kelompok madzhab aliran yang ada, sebagai keterangan, penjabaran, implementasi dari apa yang terkandung dalam Al-Qur’an. Keduanya, tak terpisahkan. Ibarat syahadatain dua kalimat syahadat.
Keduanya, merupakan sumber utama seluruh ajaran keimanan Islam. Bila keyakinan atas kesucian, kemurnian Al-Qur’an terbebas dari distorsi, didasarkan pada keimanan, juga petunjuk pendukung bukti fakta sejarah, lalu siapa bisa mengingkari tidak terjadi distorsi pada As-Sunnah !?
Bahkan terkait Al-Qur’an, dapat dipastikan telah terjadi distorsi dalam pemahamannya, menyangkut sangat banyak hal kecil maupun besar. Bukankah, pemahaman terhadap Al-Qur’an selama ini, senantiasa merujuk kepada As-Sunnah ?! Meski banyak yang percaya, bahkan mengimani, bahwa distorsi dalam
As-Sunnah telah ditangkal sejak ratusan tahun kemudian sepeninggal Rasulullah Saw, dengan adanya kodifikasi kitab kumpulan hadits yang dilabeli sebagai ashohhul-kutub ba’dal-Qur’an (Kitab paling benar setelah Al-Qur’an).
Tetap saja kitab dimaksud hanya diterima oleh sebagian muslimin dan ditolak oleh sebagian muslimin yang lain dengan alasan telah terjadi distorsi. Itulah pula, kajian kritis atas As-Sunnah dalam berbagai kitab kumpulan hadits dari berbagai kelompok, sepanjang sejarahnya, terus dilakukan oleh para ulama dan cendekiawan muslim sampai hari ini.
Itu pula yang kemudian melahirkan berbagai catatan, predikat pada as-sunnah, ahadits dengan berbagai sebutan menunjuk pengertian dan peringkat akurasinya seperti, hadits dho’if, shohih, qudsi, ahad, hasan, mutawatir (ma’nawi /‘amali), maqbul, mauquf, palsu, isra’iliyyat dll.
Sementara Al-Qur’an menyatakan bahwa Rasulullah tidaklah berkata-kata mengikuti kehendaknya sendiri, melainkan wahyu yang diwahyukan Allah (Surat An-Najm 53 : 3, 4) (30). Seyogyanya, ahadits (plural dari hadits) tidak memerlukan peringkat akurasi seperti yang kita kenal.
Sejarah panjang, perselisihan dikarenakan perbedaan pemahaman itu, baik terhadap pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, telah melahirkan berbagai madzhab, aliran pemikiran, perseteruan, pembunuhan, bahkan peperangan. Mudah ditemukan dalam perjalanan sejarah ummat Islam. Tidak berbeda, hal yang sama juga terjadi pada agama Nasrani dan agama pada umumnya.
Meski dalam perkembangannya, berbagai upaya pendekatan dilakukan untuk mencari titik temu, dengan masing-masing pihak merelakan, menerima baik perbedaan-perbedaan itu sebagai keniscayaan. Kemudian disusun argumen rasionalisasi pembenaran dari sikap legowo itu.
Ada yang berpendapat, perbedaan yang terjadi di kalangan muslimin, bukanlah pada hal-hal pokok yang disebut aqidah atau ushul, melainkan pada soal-soal fiqih yang disebut furu’, cabang, ranting, detail rincian.
Rasanya, pernyataan seperti itu lebih sebagai retorika yang didorong oleh kerinduan hidup dalam kedamaian bersama, setelah letih berseteru selama lebih seribu tahun. Bahkan bila argumen tersebut benar, bahwa perbedaan di kalangan muslimin hanya pada hal-hal kecil, pertanyaan lebih serius layak ditanyakan.
Bagaimana bila karena hal-hal kecil sepele itu saja, cukup memicu perseteruan, pembunuhan bahkan peperangan yang menelan banyak korban jiwa antar sesama pemeluk agama ? Musykil ajaran seperti itu !? Sekedar contoh saja, kaum muslimin meyakini, tauhid adalah salah satu soal aqidah yang utama, disamping kesaksian Muhammad sebagai Rasulullah.
Keduanya merupakan sentral doktrin. Tidak ada yang lebih utama dari tauhid dalam keyakinan keimanan
seorang muslim. Dalam implementasinya, pemahaman yang tumbuh di kalangan muslimin, bukan saja berbeda, melainkan bisa bertentangan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Satu perbuatan bisa dianggap sebagai ibadah yang baik oleh sebagian muslimin, sementara dalam pandangan muslimin yang lain, dianggap sebagai perbuatan syirk (menyekutukan Allah), penyimpangan nyata dari prinsip tauhid. Yang melakukannya, dari tinjauan fiqih, bisa berakibat seseorang menjadi kufur, kafir (telah meninggalkan ajaran Islam).
Belum lagi bila kita mencermati maraknya aliran-aliran yang dikenal takfiri (pendapat yang cenderung mengkafirkan kelompok yang berbeda dengan pemahamannya). Yang telah memicu peperangan sesama muslimin yang menelan korban jiwa dalam jumlah sangat besar. Kelompok takfiri inipun, terdapat hampir di semua kelompok, firqah muslimin apapun madzhabnya.
Sementara Al-Qur’an secara nash, jelas, tegas, melarang perpecahan diantara orang-orang beriman (Surat Ali-Imran 3 :103, 105, Ar-Rum 30 : 32. (31). Sangat terang benderang, ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan persatuan bahkan persaudaraan. Persatuan, persaudaraan itu, nyaris tidak pernah terwujud. Tanda-tandanyapun tak kunjung datang.
Methode ru’yah, hisab, tidak mampu meramalkannya, kapan kiranya persaudaraan, persatuan itu bisa terjadi. Semua itu hanya membuktikan telah terjadi distorsi serius dalam pemahaman ajaran “Islam”. Naif mengingkarinya. Sebagai agama termuda, terakhir, usia agama Islam saat ini 1400 tahun.
Siapa bisa menjamin, di kemudian hari, seratus, dua ratus, tiga ratus tahun mendatang, tidak terjadi distorsi pemahaman yang mungkin saja lebih serius dari saat ini, seperti yang telah juga dialami saudara-saudaranya sesama Ahlul-Kitab ?
Kalau itu terjadi, akankah berarti, ummat Islam, Yahudi, Nasrani, tidak lagi bisa disebut, diaku sebagai Ahlul-Kitab, lalu Al-Qur’an untuk siapa !? Bagaimana dengan pernyataan Al-Qur’an, “Sesungguhnya agama di sisi (dalam pandangan/bagi) Allah adalah Islam……” ?.
Barangsiapa menghendaki dien (agama) selain Islam, di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi. (Al-Qur’an, surat Ali-Imran ayat 19 dan ayat 85) (32). Bukankah itu sebuah pengingkaran tegas terhadap semua agama selain Islam ?
Pertanyaan itu, dikarenakan selama ini, kita memahami Islam sebagai sebuah nama ajaran yang eksklusif, ajaran untuk sekelompok manusia tertentu. Padahal jelas, hakikatnya tidaklah demikian. Nabi Rasul utusan Allah sejak Nabi Adam ‘alahis-salam,
diyakini sebagai penganut “Islam”. Nabi Ibrahim ‘Alaihis-Salam, adalah contoh yang jelas, seperti dikutip diatas. Semua ajaran agama samawi pada intinya, mengajarkan ajaran yang sama, penyerahan diri (taslim, berislam, berserah diri) sepenuhnya kepada Allah Swt.
Bagaimana bisa menunjuk satu kelompok penganut agama tertentu, sebagai monopoli penganut ajaran Allah, “Islam” !? Pada saat Allah Swt menyampaikan ajaran persaudaraan, Al-Qur’an menyebutnya dengan ungkapan persaudaraan orang-orang beriman, dengan penegasan “innamal-mu’minuna ikhwatun (Al-Qur’an,Surat Al-Hujurat ayat 10 ) (33).
Apabila di sisi Allah, dalam pandangan Allah, bagi Allah, agama adalah satu, yaitu “Islam /taslim/ berserah diri”, bagaimana mungkin, dalam pandangan manusia, agama menjadi beragam secara substantif, bahkan berlawanan. Padahal kesemuanya mengaku sebagai menganut ajaran Allah Yang Esa !? Hanya mungkin, bila ada beberapa tuhan yang menurunkan beberapa agama.
Pemikiran semacam itu membuat Tuhan dan agama, menjadi absurd. Allahu Ahad, Allah Alam Semesta, Allah umat Manusia, Allah Yang Maha Esa, menurunkan agama yang juga esa,“Islam (taslim)”. Begitulah selayaknya.
Saat Allah menyatakan menciptakan manusia dalam berbagai ragam suku bangsa ras, mengakhirinya dengan kalimat, “…yang termulya diantara kamu adalah yang paling bertaqwa diantara kamu”, (Surat Al Hujuraat, 49 : 13) (34) tanpa embel-embel. Sebuah pernyataan yang ditujukan untuk seluruh umat manusia tanpa kecuali. Tanpa melihat di “tempurung” mana dia berada.
SeruanNya di ayat lain, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Seperti dikutip diatas (Surat Al-Maidah, 5 : 48) (12). Bukan berlomba-lombalah memperbanyak pengikutmu. Melainkan berlomba-lombalah dalam kebaikan. Karena semua juga adalah pengikut Allah yang sama, Allah Yang Maha Esa.
Kalau demikian halnya, bagaimana mungkin, bisa terjadi perseteruan tanpa ujung, antara sesama umat beragama yang sangat mudah ditemukan dalam catatan sejarah sepanjang masa, bahkan sampai kini !? Benarkah, bila sebagian orang menyimpulkan, bahwa agama, ajaran Allah yang luhur, telah berubah menjadi pemicu permusuhan, peperangan dan pembunuhan ?
Adalah fakta sejarah, bahkan dalam catatan sejarah kenabian, kerasulan, sejak Adam sampai Rasul terakhir diwarnai banyak kisah perseteruan, pembunuhan, pertempuran, peperangan antar pemeluk agama, bahkan antar sesama pemeluk agama yang sama,
dengan masing-masing memperagakan simbol-simbol agama secara mencolok. Khususnya, terutama yang dialami Para Rasul Allah, bila dicermati, tidak ada catatan sejarah yang meyakinkan bahwa Para Rasul bersikap agresif, berseteru, berperang karena alasan perbedaan keyakinan agama.
Baik Nabi Musa, Nabi Isa ‘alaihimas-salam, dan yang terakhir Rasulullah Muhammad Saw. Semua perseteruan, peperangan yang terjadi di kala Para Rasul itu, dikarenakan perlakuan dzalim pihak lain atas Para Rasul Allah, dan sesekali bukan karena kepercayaan, keyakinan agama yang berbeda. Para Rasul Allah, tidak lebih, sekedar Penyampai Pesan, wahyu Allah Swt.
Al-Qur’an sangat tegas dalam hal ini. “Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan” Surat Al-Maidah 5 : 99 (27). “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Surat Al-Kafirun 109 : 6). “…Tidak ada paksaan dalam agama….” Surat Al-Baqarah 2 : 256. (35).
Al-Qur’an bahkan secara tegas menyatakan, “…barang siapa hendak beriman, berimanlah dan barang siapa hendak kufur, kufurlah…” (Surat Al-Kahfi 18 : 29) (27), merupakan prinsip dasar dalam hubungan interaksi antara lintas perbedaan keyakinan dan agama yang diajarkan Al-Qur’anul-Kariem.
Sangatlah jelas, semua kebencian, permusuhan yang seringkali berujung peperangan, tidaklah berkaitan dengan ajaran agama Allah, meski pelakunya adalah mereka yang mengaku beragama. Manusia beragama, juga masih tetap manusia yang sama dengan manusia pada umumnya. Begitu pula sejarahnya.
Sejarah umat beragama, sejak semula, tidak berbeda pula dengan sejarah manusia pada umumnya sampai kapanpun. Dewasa ini, di pihak lain (baca sekuler), zaman yang dibanggakan sebagai zaman capaian puncak peradaban, ilmu pengetahuan umat manusia, tetap saja manusia menjalani hidupnya penuh darah dan dosa, meski tidak ada agama disana.
Keadaan semacam itu akan terus berlangsung hingga kiamat nanti, sampai kelak manusia dihadapkan di hari Pengadilan yang dijanjikan Allah. (Surat 2 Al-Baqarah ayat 30) (36). Politik, ekonomi, ambisi hawa nafsu manusia yang melahirkan malapetaka, perseteruan, pembunuhan dan peperangan. Sekali-kali, bukan ajaran agama !
Meski simbol-simbol agama, seringkali tampak digunakan secara mencolok, diperagakan, lengkap dengan slogan dikutip dari firman-firman suci, tanpa risih, malu, apalagi merasa berdosa. Data sejarah yang dapat dipertanggung-jawabkan, tidak mendukung hipotesa bahwa agama sebagai pemicu konflik.
Penulis yang meneliti Sejarah Peperangan, Charles Philips dan Alan Axelrod, dalam bukunya “Encyclopedia of Wars / Insklopedi Peperangan”, menguatkan pendapat itu. Peperangan yang diduga melibatkan manusia beragama,
terhitung kurang dari 7% (tujuh persen) dari semua peperangan yang terjadi. Dan kurang dari 2% (dua persen) korban terbunuh. Sangat tidak berarti bila di-bandingkan dengan peperangan lain yang dilakukan karena alasan lain (sekuler).
Sebagai perbandingan saja, perang besar yang fenomenal dikenal dunia yang melibatkan agama, yang disebut sebagai Crusades, Perang Salib, diperkirakan menelan korban 1 (satu) sampai 3 (tiga) juta jiwa, sementara peperangan karena sebab lain mencapai korban fantastis, 35 (tiga puluh lima) juta korban jiwa, tentara dan penduduk sipil dalam hitungan setahun saja.
Kutipan dari “Encyclopedia of Wars” diatas, sekedar sebagai data fakta pendukung. Bukan maksud penulis, ingin mengatakan manusia beragama adalah manusia setengah dewa. Sekedar menyampaikan fakta hasil penelitian.
Sejarah umat manusia sejak semula, dipercaya, saat bumi ini hanya dihuni 4 orang, termasuk, bahkan salah seorangnya adalah Nabi Allah, Adam ‘alaihis-salam, Siti Hawa, bersama kedua putera kandungnya Habil dan Qabil, sesama saudara, pembunuhan juga terjadi. Sementara populasi penduduk bumi dewasa ini mendekati 7 milyar jiwa (?!?).
Kenyataan dalam sejarah umat manusia, tidak jarang, raja atau pemimpin baik tanpa cela, bahkan Nabi, Rasul, Wali sekalipun, ada saja alasan orang berupaya melengserkannya dengan segala cara, bahkan membunuhnya.
Kehidupan manusia secara umum sampai dewasa ini tidak berubah, kejujuran, ketulusan pengabdian, sportifitas, integritas, tidak jarang, bila seringkali menjadi penghambat tercapainya sebuah niat yang baik. Pastilah dalam keburukan semacam itu, ajaran Allah tidak hadir berperan disana. Allah yang Maha Baik mencintai hal-hal yang baik bagi hambaNya.
Allah senantiasa tidak mendzalimi hambaNya, melainkan mereka sendirilah yang mendzalimi dirinya (Surat Yunus 10 : 44, Surat 4, An-Nisaa 4 : 40 ) (37).
Al-Qur’an memandang, perjalanan manusia di dunia ini, sebagai sebuah ujian, berlomba dalam kebaikan, untuk menguji, memastikan, siapakah yang terbaik amalnya, liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, diantara kalian semua, Begitu tercantum dalam (Surat Al Mulk 67 : 2).
(38) “(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” Pasti akan timbul berbagai pertanyaan bahkan tuduhan hujatan dari pemahaman tersebut diatas. Wajar saja.
Karena sejak lama, manusia terlanjur terbiasa menikmati hidup dalam “tempurung-tempurung” yang disebut “agama”, madzhab, sekte dan berbagai aliran. Pada saat yang sama “melupakan” Allah Semesta Alam. Masing-masing
umat, jatuh cinta pada “tempurung”nya sendiri. Sibuk menghiasi tempurungnya dengan berbagai pernak-pernik menyilaukan, bermaksud mengundang Allah. Melupakan, bahwa Allah Semesta Alam yang Serba Maha itu, mustahil berada dalam “tempurung” yang sempit. Bagaimanapun indahnya “tempurung” milikmu itu dalam penglihatanmu. Allah enggan menghampirinya !
Sejak semula, Allah adalah Allah Semesta Alam. Allahu Ahad, Allah Umat Manusia, seluruhnya tanpa kecuali. Tidak ada tempurung yang pantas bagiNya. Wallahu a’lamu bish-showab.
Catatan : Semua ajaran turunannya, tafsir, syari’at fiqh mu’amalat, yang berfungsi dan memiliki aspek sosial, seyogyanya berpedoman pada pokok-pokok pemikiran, sentral doktrin diatas. Adalah layak dipertanyakan, bila menyimpang atau malah bertentangan. (Dari catatan Haydar Yahya)