O.HASHEM in MEMORIUM (Seorang Laki-Laki Sejati Penuh Warna) (Gorontalo, Sulawesi Utara 28 Januari 1935 - Jakarta, 24 Januari 2009) “…ibarat pohon yang berbunga, berbuah, meski hidup dalam kemarau berkepanjangan”. Laki-laki ini, lain dari kebanyakan laki-Iaki.
Perjalanan hidupnya seiama 74 tahun kurang empat hari, diisi dengan berbagai ragam warna kehidupan yang unik dan penuh keteladanan. Sejak remaja sampai berpulang ke rahmatullah, bisa dikatakan hidup akrab dengan “kemiskinan dan berbagai beban derita. la menghadapinya dengan bergurau penuh humor. Mengisi hidupnya dengan berkarya tanpa henti.
Beliau juga seorang dokter yang mengabdi pada bangsa dan negara yang dicintainya tanpa kenal lelah seiama 9 tahun di pedalaman miskin, Kota Agung/Lampung. 18 tahun bekerja dinas sebagai Kepaia Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek, Lampung, sampai pensiun.
Tidak lama kemudian pindah ke Jakarta atas desakan keluarga dan teman-temannya, mengingat O.Hashem mengidap asma serius yang seringkali memerlukan pera- watan intensif dan segera. Di masa tugasnya di desa terpen cil, beliau membiasakan bekerja dengan fasilitas peralatan kedokteran seadanya.
Malangnya, pasien yang datang padanya lebih sering justru setelah menjeiang seka- rat. Tidak jarang O.Hashem demi menye- lamatkan jiwa seseorang, terpaksa harus melakukan operasi dengan alat yang se- mestinya digunakan para ibu memasak di dapur.
Agaknya, itu pulalah sebabnya beliau suka mengulang ungkapan seorang pemikir Thomas Carlyle (1795 “ 1881), tentang Rasulullah saw, kurang lebihnya: ”B//a singkatnya waktu, sederhananya alat yang digunakan, sarana fasilitas yang dimiliki dan besarnya hasil yang dicapai merupakan ukuran kebesaran seseorang, adakah manusia lain yang melebihi kebesaran Nabi Islam Muhammad!?” Di Kelas 2 SMA la Menjadi Direktur SMP O.Hashem menjalani hidupnya dengan filo- sofi itu.
Dalam keadaan apapun, sarana dan fasilitas bagaimanapun, tidak menghalang- inya untuk berkarya dengan penuh ketulu- san pengabdian. Kemampuannya memang didukung keuletan dan tingkat kecerdasan- nya yang di atas rata-rata.
Pada usia san- gat muda, 1 7tahun, selagi duduk di kelas dua SMA, ia dipercaya menjabat sebagai direktur SMP Muhamadiyah Wawonasa, Manado pada tahun 1952. Bandingkan dengan remaja dewasa ini. Keuletan dan ketekunan yang dimilikinya diwariskan oleh sosok ayah yang ulet dan tekun juga fig- ur ibu yang cerdas dan keras. O.Hashem lahir dalam keluarga petani.
Diceriterakan bagaimana sang ayah, Pak Hasyim bila menanam pohon kelapa, ratusan pohon ditanam dalam jarak dan posisi yang san- gat presisi.
Sehingga, bila kita melihat satu pohon kelapa dari posisi berhadapan, po- hon kelapa di baris kedua tidak tampak, saking lurusnya. Setamat dari SMAN Manado, beliau ke Surabaya kuliah di fakultas kedokteran Universitas Airlangga.
Di sana beliau ber- sama beberapa tokoh masyarakat antara lain, dr.Suherman dari Muhamadiyah, Hadi A Hadi dari PNI (Partai Nasional Indonesia) dan seorang tokoh dari Al Irsyad, mendidirikan YAPI (Yayasan Penyiaran Islam) pada tahun 1962. Yayasan terse- butlah yang mula-mula menerbitkan karya- karyanya. Dalam perkembangannya, YAPI menjadi
semacam Islamic Information Centre, yang menjalin komunikasi lintas bang- sa di seluruh dunia di mana terdapat ko- munitas kaum muslimin. Termasuk dengan yang dulu dikenal sebagai Black Moslems. Mohamad Ali, petinju legendaris salah seorang tokohnya sempat ke Indonesia sing- gah menemui O.Hashem.
Beberapa tahun di Surabaya kemudian pindah ke Bandung dan melanjutkan di Universitas Pajajaran, sampai meraih gelar dokter yang mem- bawanya berdinas di pedalaman Bandar Lampung, Sumatera Selatan. Macan “Jejadian” Diburunya Juga Rasa empati yang besar atas derita orang lain, melupakannya pada beban derita juga sakit yang di alaminya.
Fasilitas yang dida- pat, gaji yang sekedarnya, obat-obat yang diterimanya dari industri-industri pharmasi, kesemuanya diabdikan untuk pasiennya yang memang rata-rata miskin. Penulis pernah menyaksikan, beliau memeriksa pasien dan memberi resep di jalan. Saat itu kebetulan saya bersama beliau dalam perjalanan. O.Hashem, bukan hanya sekedar dokter.
Beliau juga layaknya seorang pahl- awan pemberani di komunitas desanya. Bila ada macan yang memangsa manusia, penduduk kampung yang ketakutan datang mengeluh kepadanya. Sudah biasa, bila macan sekali berhasil memangsa manusia, dia akan ketagihan, datang dan datang lagi.
Daging manusia terasa lebih enak, empuk, juga menangkapnya tidak sesulit menangkap rusa. la bersegera memang- gul senjata menelusuri jejak raja hutan pe- mangsa, tanpa pulang berhari-hari sam- pai memastikan kembali dengan membawa buruannya.
Jasad macan yang tak lagi bernyawa itu dipikulnya, sementara pen- duduk yang menyaksikannya merasa lega, terbebas dari rasa ancaman sang macan yang biasa datang secara tiba-tiba. Bagi lelaki pemberani ini, mem- buru dan membunuh macan, memiliki makna tersendiri. Membunuh macan bagi O.Hashem berarti menghancurkan mitos yang ada di masyarakat.
Kepercayaan bahwa macan pembunuh merupakan makhluk jejadian menjadi gugur seketika. Rasa takut. penduduk pudar dan mitospun sirna. Lewat keberanian manusia multi warna ini, rasionalitas ditegakkan dan akal budi pun dijunjung tinggi.
Macan jejadian sebagai representasi cara pikir primitif dan terbelakang dihancurkan oleh keberanian sang dokter baik hati ini. la memasukkan unsur rasionalitas dalam prosesi penang- kapan hewan buas tersebut. Laki-laki ini sering menyebut dirinya macan, makhluk yang juga dikaguminya. la bisa berceritera panjang lebar perihal asal usul, watak, sifat binatang yang menurut- nya sangat karismatik. Bergurau Dengan Kematian Setiap kali beliau berbicara tentang kematian, tidak sedikitpun terbersit rasa takut atau cemas.
Bahkan sempat bergurau dengan- nya. Katanya suatu kali, malaikat al-maut sudah beberapa kali datang bermaksud menjemputnya. Sang malaikat kembali ba- lik menghadap Allah swt mengabarkan dan bertanya :”Ya Allah, makhlukMu yang satu ini luar biasa semangat hidup dan pengab- diannya pada kemanusiaan, bagaimana I?” Kemudian, Allah menundakan mencabut nyawanya.
Beliau mengakhiri celotehan- nya ini dengan
Memang masyaaaannnn (maksudnya macan) gak gampang rr\ati.
Beberapa hari menjelang wafatnya, saha- batnya Utomo Dananjaya menjenguknya di rumah sakit. Katanya pada sahabatnya itu :”Biarlah saya lebih dulu kesana mas Tom..saya akan lakukan penelitian disana dan memohon Allah mengijinkan kembali
kedunia..nanti saya kabarkan secara rinci bagaimana sebenarnya keadaan disana buat teman-teman”. Cinta llmu Selama puluhan tahun saya bersahabat dengan O.Hashem, tidak pernah saya meli- hat sedikitpun ketertarikannya pada materi.
Kesibukannya lahir dan batin, bersumber atas kecintaannya pada ilmu pengetahuan, rasa empatinya yang dalam pada kema- nusiaan dan Islam, agama yang diiman- inya. Hidupnya sangat sederhana. Beliau tidak pernah peduli dengan bentuk, model, warna dan letak perabotan di rumah- nya. Yang penting, ada rak buku di dekat tempat duduknya.
Pernah beliau ditanya, agar bisa hidup lebih baik, mengapa tidak mencari usaha sampingan ? Jawabnya :”Orang-orang seperti saya ini, bila bekerja dengan modal, akan berakhir dengan ha- bis modal. Bila bekerja tanpa modal, maka akan berakhir dengan banyak hutang”. Be- gitu katanya. Bisa saja orang melihat ba- gaimana ?
Namun, sejatinya ia seorang laki-laki bahagia dengan cara hidup pili- hannya itu. Hal ini tidak terlepas dukungan penuh sang istri layaknya seorang relawan yang tulus dalam pengabdian kepadanya, membuat O.Hashem mantap berada di jalan cintanya itu. Karya-Karyanya Beliau sangat dikenal di kalangan cendeki- awan, sebagai pemikir juga penulis.
Apa gunanya berpikir kalau terlepas dari ke- hidupan, meminjam ungkapan Rendra. Karenanya, banyak karyanya bersifat merespon subjek aktual sesuai keadaan dan waktunya.
Antara lain : Rohani mani dan Kesehatan (1957), KeEsaan Tu- han (1962), Marxisme dan Agama (1963), Menaklukan Dunia Islam (1965), Jawaban Lengkap kepada Pendeta Prof.Dr.J.Verkuyl (1968), Saqifah (1987), Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari (2000), Haji Mengikuti Jalur Para Nabi (2000),Darah dan Air Mata (2001), Muham mad Sang Nabi (2008).
Beberapa karya ter- jemahannya antara lain Muhammad dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Wanita dalam Islam dan Keristen, Sembahyang Dalam Islam dan Keristen, Sumbangan Islam terhadap Peradaban dan Nahjul Balaghah. Karya terakhirnya yang segera diter- bitkan Mizan “Benarkah ‘Aisyah Menikah di Usia Dini ?”.
Buku kecil ini, menjadi pent- ing bagi beliau. la maksudkan sebagai sebuah gugatan atas kebiasaan menikah- kan perempuan di usia dini yang diperca- ya sebagian.masyarakat muslimin sebagai sunnah Rasulullah saw. Kecintaannya pada ilmu mengatasi cintanya pada dirinya.
Saat orang ramai membicarakan buku .*Saqifah”nya yang kontroversiil, ia sempat berkata :”Setelah saya selesai menulis buku ini, rasanya saya ingin membakarnya, tapi bagaimana lagi, memang demikianlah kenyataan yang terjadi dalam catatan sejarah kita (Islam)”. Maksudnya apa yang ditulisnya itu, jauh dari harapan hatinya bahwa itu nyata be- nar terjadi.
Tapi sikapnya sebagai seorang ilmuwan tidak bisa lain kecuali menuliskan apa adanya. Kejujuran seorang ilmuwan menjadi akidahnya dalam menulis.
Itu pula sebabnya setiap tulisannya selalu dileng- kapi berbagai sumber literatur terkait dalam berbagai bahasa. Dalam setiap melakukan penelitian, yang pedoman tertingginya adalah kebe- naran ilmu pengetahuan itu sendiri. Sekat- sekat ideologis, aliran dan mazhab, tidak menjadikannya bersikap subjektif.
Dengan bahagia ia merevisi keyakinannya sendiri ketika ada pandangan lain
yang lebih ra- sional, objektif, sesuai nalar yang layak di- terima. Baginya, seluruh ilmu pengetahuan, darimanapun datangnya termasuk ilmu keagamaan adalah sebuah keniscayaan untuk selalu diuji sesuai standar sebagai ilmu pengetahuan. Seorang ilmuwan harus berani menyampaikan apa adanya. Visi keilmuwan seperti inilah yang selalu dipegangnya.
Adalah kenyataan bahwa O.Hashem lebih condong pada model kea- gamaan tertentu, juga karena alasan ilmu pengetahuan yang didapatnya.
Hasil dari sebuah pencarian mendalam yang memiliki landasan ilmiah-objektif sesuai penelitian dan pengamatannya. Buku-buku yang ditulisnya seperti Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari (2000) dan Saqi- fah (1987) berusaha memaparkan sejarah secara seimbang dan proporsional. Meski beliau menulisnya dengan beban moral yang berat.
Buku tersebut mempertegas posisinya sebagai seorang ilmuwan sejati. Lazimnya seorang ilmuwan, beliau seorang kutu buku yang sulit dicari padanannya. Ti- dur bersama buku lebih sering dibanding ti- dur bersama istrinya. Buku yang dibacanya sangat beragam. Sejarah, Filsafat, Agama, Sastra, Kedokteran, Silat (Kho Ping Ho) juga Novel.
Beliau mengagumi dan me- muji penulis muda kita Andrea Hirata. :“Dia seorang jenius” katanya. “Laskar Pelangi” sampai buku ke empat “Maryamah Karpov” dibacanya tanpa henti sambil menahan sakit sebulan sebelum wafatnya. Toleransi Tanpa Batas Selayak seorang ilmuwan yang cenderung “bebas” berpikir, sikap toleransinya nyaris tanpa batas.
Dibuktikan dengan pergaul- annya yang luas. Dalam keluarga besar Islam, ia bisa bersahabat dengan hampir semua kelompok, mazhab dan aliran. Mo- deren, tradisionil, yang moderat bahkan yang ekstrim sekalipun.
Menghargai dan menghormati pendapat, keyakinan dan ideologi seseorang, melekat kuat pada dirinya. la bahkan sempat berteman baik bahkan dengan seorang aktifis komunis ideologis, juga seorang tokoh Ahmadiyah, Saleh Nahdi, yang sempat menjadi teman diskusinya.
O.Hashem sangat terpukul dan berduka ketika mendengar teman komunis- nya diclurit di Surabaya saat G 30 S PKI. Setiap kali beliau mengulangi menceritera- kan, bagaimana teman yang ia kagumi itu dirobek perutnya, sambil menahan sakit, kedua tangannya menahan usus yang ter- burai, melangkah terhuyung-huyung dan kemudian jatuh tersungkur dan meninggal.
O.Hashem menceriterakannya secara rinci dengan nada menyesali dan protes atas peristiwa itu. Kenangnya suatu kali, sebelum terjadi peristiwa pembunuhan pada teman- nya itu, O.Hashem dan teman sejawatnya sedang bermain catur. Teman komunis itu datang langsung menegurnya :”Main catur tidak mengeluarkan keringat…Ayo kita kerja buat rakyat !"• begitu katanya.
Sangat jelas bagi O.Hashem, perbedaan ideologi tidak menghalanginya untuk tetap menjaga ke- lestarian persahabatannya. la pun mengerti ambang batas pada titik mana perbedaan itu harus dihentikan. Amalia, puteri tunggal O.Hashem menceriterakan, saat O.Hashem berdinas di pedalaman Lampung, Kota Agung, seorang gadis Katholik Sri namanya, membantu di rumahnya.
Setiap hari minggu, O.Hashem meminta agar keluarganya mengantar Sri ke Gereja di desa Gisting yang letaknya lebih 20 km dari rumahnya. Beliau juga berpesan pada seluruh keluarganya untuk tidak men- gusik juga mempengaruhi membujuk agar Sri merubah keyakinannya dengan cara apapun.
O.Hashem menganggap Sri telah menjadi bagian dari keluarganya yang layak dihormati dan disayangi. Keadaan seper- ti itu berjalan selama dua tahun. Kini Sri menjadi Kepala Susteran di Padang, Su- matera Barat. Tetapi dr.O.Hashem
pulalah yang menjawab dengan tajam tulisan Prof.
DR.J.Verkuyl seorang pendeta Belanda, yang menulis tentang Islam yang menurut O.Hashem merupakan tulisan menyesatkan dan tidak adil. Amal Yang Dibanggakannya Kecintaannya, kepeduliannya, serta keter- libatan emosinilnya terhadap nasib bangsa dan negara yang tak kunjung terbebas dari korupsi, kemiskinan dan kebodohan, menjadi salah satu penyebab menambah be- rat deritanya.
Bangsa ini bangsa yang be- sar. Bangsa ini memiliki segudang ilmuwan kelas dunia. Tapi mengapa..mengapa… mesti bernasib malang seperti ini. Begitu selalu katanya… Rasa empatinya pada kemanusiaan, lintas batas sekat agama suku dan bangsa.
Di hari-hari terakhirnya, saat itu se- dang gencar-gencarnya Israel membantai penduduk sipil, perempuan, orang tua juga anak-anak Palestina, sambil menahan rasa sakit yang sangat, ia sempat bertanya :”Bagaimana Gaza ?”. Di balik itu semua, ia seorang laki-laki pencinta besar kepada istri dan keluarganya.
Pernah ia berandai-andai kelak bila di- tanya malaikat :”Apa amal yang kau bang- gakan dalam hidupmu ?”. Ohashem akan menjawab Saya sangat menghormati dan mencintai satu-satunya istri saya sampai akhir hayat, itulah amal kebanggaan saya”. la selalu mengungkapkan protes, rasa keprihatinan mendalam atas nasib kaum hawa pada umumnya.
Betapa banyak perempuan yang menjadi korban egoisme kaum lelaki dengan mencari pembenaran dari ayat-ayat suci dan hadis. Poligami yang tidak adil, nikah paksa di usia dini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan tindakan-tindakan misogini lainnya sangat bertolak belakang dengan kepribadian O.Hashem.
Dari dirinya terpancar kasih sayang dan kelembutan hati pada perempuan. Meski begitu banyak karya dalam hidupnya tapi mencintai istri dan keluarga telah menjadi pilihan hidup, amal yang dibanggakannya. Apresiasi Atas Karya Remaja dan Rasa Humornya O.Hashem seringkali dikerumuni remaja, pemuda dan mahasiswa.
Kapan saja tamu datang kerumahnya, selalu saja beliau membesarkan hati sang tamu. Seorang tua, pemuda, mahasiswa, remaja, kaya, terlebih miskin dia selalu menyambutnya penuh kebahagiaan. :”Ahlaaaaaannn…” Begitu selalu reaksi spontannya.
Dia sangat aprisiatif atas karya seseorang betapa kecil dan sederhananya, sekaligus motivator yang kuat bagi para remaja, pemuda untuk selalu berkarya, mengabdi pada bangsa, negara dan agamanya.
Kepada Sulis pelantun sholawat Cinta Rasul misalnya, beliau sempat mengatakan .-’’Saya kira, di surga, nyanyian seperti yang kamu lantunkan itulah yang akan diperdengarkan di sanaY Saat beliau dirawat di rumah sakit, semua perawat bukan terbebani olehnya, melainkan justru terhibur dengan kehadirannya.
Saat itu beliau dirawat dl rumah sakit Sumber Waras*’ Grogol, Jakarta. Layaknya Rumah Sakit Nasrani, tentu saja banyak suster perawat kristiani. Dengan tulus dia memuji para suster perawat yang kadang mengerumuninya, katanya :”Kalian ini orang-orang yang sangat baik mengabdi pada kemanusiaan.
Kelak bila kalian tidak berada di sorga…maka saya akan demo prates kepada Tuhan”. Di hari-hari terakhir hidupnya di lantai lima, rumah Sakit MMC, Kuningan, beliau didera sakit yang tak tertahankan. Dia bertanya pada perawat
Mbak tau gak kenapa jendela itu ditutup mati !?
. Perawat itu menjawab :”Yaa, memang sudah begitu pak dokter”.
Lanjut O.Hashem :”Jendela itu ditutup mati, agar pasien yang mengalami sakit seperti saya ini, tidak meloncat di
malam hari”. Di kamarnya yang berisi enam pasien, beliaupun sempat menghibur sesamanya. Setiap kali ia mesti ke kamar mandi misalnya, botol infusnya harus mengikuti- nya. Dia membawanya, mengangkat keatas kepalanya sambil mengatakan pada pasien lain :”lni obor olimpiade kita…”.
Jadilah istilah “obor olimpiade”sebagai sebutan in- fus menjadi gurauan di antara pasien yang sakit. Begitulah O.Hashem. Bukan hanya tahan dalam derita, melainkan juga mam- pu bergurau dengan derita yang memang sudah menjadi sahabat setia perjalanan hidupnya sambil terus berkarya. Kisah tentang O.Hashem tidak akan ada habisnya.
Apa yang saya catat ini sekedar pandangan sekejap tentang diri dan perjalanan hidup beliau. Biografi lengkapnya layak ditulis dan diteladani. O.Hashem meninggalkan kita semua pada tgl.24 Januari 2009 setelah dirawat selama sepuluh hari di rumah sakit MMC, Kuningan Jakarta. Semoga Allah swt menerima disisiNya. haydar yahya, 4 Februari 2009