Rasulullah Muhammad Shallallahu’Alaihi wa-Alihi wa-Sallam dan Imam ‘Ali bin Abi-Thalib ‘Alahis-Salam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa-Alihi wa-Sallam dan Imam ‘Ali ‘Alaihis-Salam, keduanya memiliki garis keturunan dan leluhur yang sama. Kedekatan keduanya, hampir dapat ditemukan di semua sisi kehidupannya. ‘Ali dikenal memiliki dua nama. Ibunya, memberi nama Haydar, berarti singa.

Sementara Rasulullah Saw, memberinya nama ‘Ali, bermakna tinggi keutamaannya. Sebuah nama, yang tidak dikenal sebelumnya, sepanjang sejarah bangsa Arab. Gabungan kedua nama indah itu, menggambarkan kepribadian ‘Ali yang kamil, lengkap. Keberaniannya di medan perang jihad, ilmunya yang melangit, akhlaqnya yang mulia, dan keimanannya yang sempurna.

Dalam Perang Khandaq, yang disebut juga sebagai Perang Ahzab, sempat terjadi duel, satu lawan satu, antara seorang jawara, pendekar kafir Quraisy, ‘Amr bin ‘Abdi-Wud dengan ‘Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih belia. Rasulullah Saw, yang khawatir, membekali pedang dan do’a bagi kejayaan ‘Ali.

Sepanjang duel berlangsung, diiringi do’a Rasulullah Saw. ‘Ali layaknya dikelilingi perisai baja melindungi dirinya. ‘Ali memenangkan duel, dengan sekali tebas, membelah tubuh ‘Amr bin ‘Abdi Wud. Terselip kalimat diantara do’a Rasulullah Saw…

Hari ini, kekafiran yang sempurna berhadapan dengan keimanan yang sempurna

Sebuah kalimat yang melukiskan iman seorang ‘Ali bin Abi-Thalib dalam pandangan Sang Rasul. Di kalangan bangsa Arab, ungkapan yang masyhur menggambarkan sosok keberanian dan kepahlawanan ‘Ali ‘As,

Tidak ada laki-laki sejati, kecuali ‘Ali. Tidak ada pedang, selain “Dzulfiqar

(nama pedang ‘Ali, pemberian Rasulullah Saw)”.

Jadilah ‘Ali ‘As, tercatat dalam sejarah Islam, sebagai salah seorang yang selalu berada di garis depan, dalam perjuangan menegakkan Risalah Rasulullah Saw. Sejak wahyu pertama di usia remaja, hingga syahid menjemputnya, pada tgl. 21 malam di bulan Ramadhan, tahun 40 H. Bagaimana tidak !?

‘Ali adalah anak didik langsung dari tangan suci Rasulullah Saw. Dengan penuh kasih sayang, Nabi Saw merawat, memelihara, mendidik, membentuk peribadinya, sejak dari buaian hingga dewasa. Sementara Allah Swt yang mendidik RasulNya. Adakah pendidik yang lebih baik !?

Nabi Saw menikahkan ‘Ali ‘As dengan Fathimah Az-Zahra’Alaihas-Salam, putri kesayangannya dari Sayyidatina Khadijah. Rasul menyebut Fathimah, sebagai bagian, belahan dari diriNya. Tidak lama kemudian, melahirkan Al-Hasan dan Al-Husain ‘Alaihimas-Salam. Bagi kedua cucunya itu, Nabi Saw menyatakan, sebagai Penghulu Pemuda di surga.

Pernyataan Nabi Saw itu, mudah ditemukan dalam berbagai kitab hadis yang dikenal dan diakui. Di Indonesia, dalam kultur budaya Islam Melayu, sejak lama, sangat populer sebuah nasyid, qoshidah klasik, yang sering dilantunkan para santri.

Berbunyi, “Li khomsatun uthfi biha narol-jahimi-alhatimah Al-Musthofa (Rasulullah Saw) wal-Murtadho (Imam ‘Ali ‘As), wabna-huma (Al-Hasan Al-Husain) wa-Fathimah.

“Aku memiliki lima (pusaka) dengannya akan memadamkan panas api neraka Rasulullah Saw, Imam ‘Ali ‘As, dan kedua Puteranya Al-Hasan, Al-Husain dan Fathimah ‘Alaihimus-Salam Mereka itulah yang disebut sebagai Ahlul-Bait Nabi Saw, yang disucikan Allah Swt. (Al-Qur’an, Surat 33, Al-Ahzab, Ayat 33).

Kemudian dijelaskan secara rinci dalam Hadits Nabi Saw yang sangat populer, dikenal dengan Hadits-Al-Kisaa’ 1) Segera setelah dilahirkan oleh ibunya, Fathimah binti Asad, seluruh perjalanan hidup ‘Ali, berada sangat dekat di sisi Rasulullah Saw, bahkan sebelum wahyu pertama diturunkan di Gua Hira.’ Ali mengikuti Nabi, seperti bayang-bayang. ‘Ali Kw.

(Karramallahu Wajhahu), artinya wajah yang dimulyakan Allah. Begitu, biasa dituliskan di depan nama ‘Ali. Karena ‘Ali, sejak dilahirkan, sepanjang perjalanan kehidupannya, tidak pernah sekalipun, menghadapkan wajahnya pada berhala sesembahan kafir Quraisy. Apalagi menyembahnya.

Dalam segala sesuatu, Rasulullah Saw adalah uswah, suri tauladan dan guru satu-satunya bagi ‘Ali, sampai Rasulullah Saw wafat meninggalkannya. Dalam berbagai Kitab Hadits, bisa ditemukan sabda Rasulullah Saw :”Aku adalah Kota Ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa hendak memasuki Kota Ilmu itu, selayaknya melewati pintunya”.

Ada yang menuliskan, ‘Ali disebut sebagai Putera

Ka’bah, karena dilahirkan di dalam Baitullah Ka’bah. Bahkan dalam Kitab Shohih Bukhari dan Shohih Muslim, yang sangat dipercaya dan populer di Indonesia, diriwayatkan dalam suatu kesempatan, Rasulullah Saw. bersabda :”Tidakkah engkau rela wahai ‘Ali, posisi kedudukanmu disisiku ibarat posisi (nabi) Harun dengan (nabi) Musa.

Hanya saja, tidak ada Nabi lagi sesudahku”. 2). Sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa’i, yang dikenal dengan hadits Al-Ghadir, Nabi bersabda :”Barang siapa yang selama ini, Aku adalah walinya, maka ‘Ali adalah (juga) walinya. Semoga Allah menjadi wali bagi yang menerima (‘Ali) sebagai walinya dan menjadi musuh bagi yang memusuhinya”.

Terlepas dari adanya perbedaan interpretasi tentang hadits-hadits itu, bagi penulis, kedekatan, kebersamaan ‘Ali yang istimewa dengan Rasulullah Saw dalam berbagai sisinya, pada hakikatnya lebih mulia dan bernilai dari berbagai pujian itu. Apa yang tak tampak dari dirinya, jauh lebih luhur dan mulya.

Pengakuan Imam ‘Ali ‘Alaihis-Salam :”Aku mengikuti Rasulullah, seperti anak unta mengikuti induknya”.

Aku tidak memiliki ilmu terkait sesuatu apapun, kecuali sampai Rasulullah Saw mengajarkannya padaku

Berbeda dengan para Sahabat Nabi pada umumnya, ‘Ali ‘As tidak pernah mengenal ajaran agama, kepercayaan apapun sebelumnya, kecuali yang diajarkan Rasulullah Saw. Begitulah sosok Imam ‘Ali ‘Alaihis-Salam. Allah telah menetapkan kehendakNya. Alam semesta tak mampu mengingkarinya. Keduanya, ibarat dua buah, dari pohon yang satu (Dari Catatan HY Januari 2017)