Bagi yang tertarik memperluas wawasan.. Moga bermanfaat catatan dibawah ini : #SAVE ISLAM Mengenang 70 thn Kemerdekaan Indonesia, 17Agustus 2015 POTRET UMMAT Stop Heboh Mazhab Sunni Syi’ah Tanpa Ujung … Sabda Rasulullah saw :“Barangsiapa yang tidak peduli atas nasib yang menimpa kau muslimin, bukanlah dari mereka (kaum muslimin).. (alhadits).

(Tulisan ini, sekedar sebuah upaya, ajakan untuk semua muslimin tanpa kecuali dari aliran mazhab apapun, untuk peduli atas nasib muslimin yang sangat memprihatinkan dewasa ini, dan melakukan sekecil apapun yang bisa demi ‘izzil Islama wal muslimin.) Seorang penulis sejarah Nabi, Fuad Hashem dalam bukunya, Sirah Muhammad, melukiskan keadaan bangsa Arab sebelum datangnya Islam; Perang antar suku disana sudah menjadi rutinitas, layaknya olah raga di zaman moderen.

Agaknya budaya itu masih berlanjut sampai sekarang. Ironinya, perang yang sekarang dengan membawa dalil-dalil agama. Yang lebih memprihatinkan kita, gemanya sampai juga ke Indonesia. Tidak sedikit remaja pemuda kita yang terjangkit demam perang, bahkan ada juga yang siap jadi “pengantin bom bunuh diri”, berjihad, katanya. Dengan teriakan Allahu Akbar.

Sesamanya menyebar kebencian, permusuhan, fitnah keji, kafir mengkafirkan, sesat menyesatkan, sepertinya telah menjadi “bid’ah” tambahan ibadah ritual, bersaing dengan kewajiban sholat, sholawat dan dzikir. Apa saja menjadi “halal” dilakukan untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompoknya.

Padahal kita semua tau, bahwa Islam, bukan hanya menunjukkan tujuan kita kemana, melainkan juga memberi tuntunan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu. Amar ma’ruf nahi munkar, hanya islami bila dilakukan dengan kasih sayang dan kesabaran. Tujuan yang baik, dilakukan dengan cara-cara yang baik pula.

Jihad dalam arti berperang, hanya dibenarkan dalam rangka membela diri dari agresor atau menuntut hak keadilan milik kita. Seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina. Itulah jihad Islam ! Mengapa kita tidak afwaja, berbondong-bondong ke Gaza !?

Kalau ummat pada umumnya, perang adalah pilihan terakhir, di sebagian ummat ini, perang antar sesamanya justru bisa menjadi prioritas utama. Dibelahan dunia lain, ummat yang beragam suku, bangsa, budaya dan agama, saling menghormati perbedaan dan keberagamannya, bagaimanapun tajam perbedaannya. Ummat ini justru sebaliknya.

Kehadirannya lebih menjadi masalah bagi dunia daripada menjadi inspirasi “makhroja hasana” mengatasi masalah dengan silaturahim. Alih-alih menjadi rahmat bagi alam semesta.

Bahkan para habib, yang dulu dikenal tinggi akhlaqnya, kini, ada saja satu dua yang jadi sangar, mengumbar pernyataan menyulut kebencian, “membodohi” remaja-remaja kita untuk saling berseteru. Bergaya aristokrat, feodal yang sangat jauh dari semangat ajaran Islam yang menjunjung tinggi akhlaq alkarimah.

Banyak ummat yang tau siapa kawannya, tapi tidak tau siapa lawannya. Banyak ummat yang tau siapa lawannya, tapi tidak tau siapa kawannya. Ummat yang satu ini, sangat “menarik” sebagai tontonan hiburan bagi musuh-musuhnya. Ummat ini tidak tau siapa kawannya, sekaligus tidak tau siapa lawannya. Akibatnya, siapa saja bisa jadi sasaran jihad.

Bisa saja menyerang tetangga sendiri, teman sendiri, saudara sendiri, kerabat sendiri, suku

dan bangsa sendiri. Seperti yang terjadi di Sampang misalnya, sampai hari ini sudah jalan tahun ke empat, mereka (penganut syi’ah), masih menjadi pengungsi dari desa kampung tanah leluhurnya sendiri dalam penderitaan yang memilukan. Pemerintah dan aparat sepertinya tidak mampu menegakkan NKRI di “Kerajaan Sampang”.

Sedikitpun tidak mengusik nurani sesama anak bangsa, Bangsa Indonesia. Bahkan yang mengaku sebagai para ulama disana, sepertinya justru merestui pengusiran anak-anaknya sendiri yang miskin, kecil dan lemah, karena dianggap berbeda. Siapa yang menjadi uswah, teladan, solusi kejam seperti itu !?

Begitulah kenyataan kehidupan sebagian komunitas muslimin dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Masih saja tidak malu berkhutbah rahmatan lil’alamin. Sebab berperang, tidak lagi menjadi penting. Bisa apa saja.

Spanduk, buku, slebaran tendensius yang tak bernilai, informasi kaleng, agitasi provokatif, cukup alasan menyulut perseteruan dan memakan korban. Meski alqur’an mengajarkan tabayyun, menimbang dengan bijak setiap melihat dan mendengar sesuatu. Sesumbarnya, ummat ini milyaran jumlahnya.

Ya, benar milyaran, tapi banyaknya “ka ghutsaa-is sail” sabda Rasulullah saw. Seperti buih banjir yang berserakan terombang ambing tidak jelas arah tujuannya. Kini, Islam yang diaku sebagai agamanya, hanya sayup-sayup saja terdengar. Pekikan sektarian, primordial, fanatisme kelompok, aliran dan mazhab, dengan congkak telah menggantikan Islam.

Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, Syi’ah, Salafi, Wahabi, ISIS, Taliban, Al Qaedah, An Nushroh, dll. Ma’af, begitulah suara dari “tempurung-tempurung” itu, lebih nyaring berkumandang bersautan diseluruh penjuru bumi, kesemuanya merasa dan mengaku sebagai representasi Islam yang “Maha Benar”. Merasa berhak mengadili dan meghukum siapa saja yang dianggap berbeda.

Orang diluar sana mulai bertanya-tanya, agama apakah gerangan yang dianut ummat yang satu ini ? Agama barukah ?! Kenapa selalu heboh dengan serang sana sini mengganggu kesejukan dunia !? Rupanya ummat ini sedang ada perhelatan besar. Mereka sedang sibuk bahu membahu bersama, menggali untuk menguburkan janazah induknya yang dianggap jompo, Islam namanya.

Na’udzu billahi min dzalik. Bagaimana tidak !? Sebab berpecah belah, berfirqoh-firqoh, saling bermusuhan, berperang dan membunuh, meski sebenarnya tidak selayaknya ada, dicari-cari dalil hujjahnya, dita’wil untuk pembenaran pendapatnya dan dijadikan akidah layaknya “pilar agama”.

Sementara Al Qur’an yang nash, shorih, jelas, tegas, perintah kewajiban, ber"ukhuwwah”, berkasih sayang, menyebar rahmat bagi alam semesta, diabaikan tanpa rasa bersalah apalagi merasa berdosa.

Buku-buku, literatur, dari berbagai mazhab yang menyebar kebencian, justru menjadi pegangan, dihafal, digemari, menjadi trendy, pedoman sebagian para pemuda dan remaja, dianggap layak menggantikan wahyu Ilahi. Sementara kalam Allah alqur’an yang suci, gampang saja dicampakkan dengan berbagai alasan.

Saya sering mendengar dan membaca misalnya, pernyataan sekelompok kecil orang, dengan yakin, mengatakan, menulis, syi’ah bukan Islam, karena alqur’annya beda, lengkap dengan copy paste dari berbagai buku.

Pernyataan abal-abal seperti ini, dipercaya melebihi pernyataan Allah yang wajib kita imani bahwa “Allah yang menurunkan al qur’an dan Kamilah (Allah) yang menjaganya.” َ ‫لحافظون‬ َ ‫ان نحن نزلنا الذكر وانا له‬. (Surat al Hijr ayat 9).

Meski yang katanya alqur’an beda itu, tidak pernah ada seorang manusiapun yang pernah hidup, sempat melihatnya sepanjang masa di alam ini. Wallahu a’lam kalau di alam setan.

Syi’ah, menghina istri Nabi dan para sahabat yang dihormati aswaja. Kalau benar ada yang seperti itu di Indonesia ini, baiklah dilaporkan saja pada pihak yang berwajib, diseret diproses sesuai hukum yang berlaku. Ada pasal-pasal pidana bisa dikenakan di negara berPancasila ini tanpa heboh dengan seruan jihad.

Oooo, itu ada dalam buku-buku syi’ah, buku ini, buku itu, halaman sekian, hadis ini itu, bunyinya begini begitu. Buku berisi hujatan dan hinaan, tidak layak dibaca. Tidak ada manfaatnya kecuali keburukan. Islam mewajibkan kita mencari ilmu hanya yang bermanfaat.

Yang dunia tau, Ayatullah Ali Khamene’i selaku marja’ (selayaknya Imam dalam mazhab syi’ah) yang pengikutnya terbesar dalam komunitas muslim syi’ah dunia, dalam fatwanya, secara tegas mengharamkan hujatan, hinaan, seperti yang dituduhkan.

Bahkan di Republik Islam Iran, dimana beliau selaku Pemimpin Spiritual Tertinggi, perbuatan tidak senonoh semacam itu merupakan tindak pidana yang bisa dihukum. Masih saja dicari-cari, orang syi’ah memang seperti itu, mereka bertaqiyyah. Lain di mulut, lain di hati. Repot kalau sudah begini. Menghakimi hati ?

Rasulullah saw saja, tidak menghakimi hati seseorang, melainkan perbuatannya. Yang bisa menghakimi hati hanyalah Allah swt, “fahuwa ahkamul hakimin”. Adakah seorang muslim berani mengambil hak Allah swt dengan mengadili hati seorang hambaNya !? Kalau hati juga dihakimi, akibatnya, aswaja, syi’ah, siapapun bisa saja jadi sasaran.

Orang bersyahadat, sholat, zakat, puasa, haji, dermawan, rajin berdzikir, penyayang, santun, bisa juga dianggap kafir, dengan alasan itu hanya diluarnya, dalam hatinya dia musuh Allah dan RasulNya. Jadi anarki, kacau balau kalau begitu. Adakah begitu teladan muslimin dalam hidup bermasyarakat menurut alqur’an dan RasulNya !?

Kalaupun tuduhan-tuduhan itu benar, dan kemudian para ulama syi’ah terkemuka memperbaikinya, seperti yang telah difatwakan Ayatullah Ali Khamene’i dengan fatwa tegasnya, sewajarnyalah, kita gembira dan menyambut salam persaudaraan ukhuwwah islamiyah. Demi Islam ! Niscaya kita bisa ramai-ramai muslimin berbagai mazhab, bersegera sholat di Masjidul Aqsho.

Alangkah bahagianya Rasulullah saw bila melihat ummatnya seperti itu. Kapankah !? Sebenarnya, tidak ada alasan lagi untuk berdalih dengan mengungkit masa lalu yang buruk, setelah seseorang menyatakan perbaikannya. Bukankah begitu etika Islam dalam silaturahim antar sesamanya !?

Terkait Syi’ah Ja’fari adalah salah satu diantara mazhab-mazhab dalam keluarga besar Islam, itu adalah sebuah realitas. Mengingkarinya seperti mengingkari matahari terbit dari timur. Coba simak dengan kepala dingin, terutama bagi yang sudah terlanjur panas. Dunia Islam mengakui dan menerima realitas kenyataan itu.

Republik Islam Iran yang mayoritas penduduknya muslimin bermazhab Syi’ah Ja’fari, adalah satu-satunya negara di dunia yang secara lantang menyebut dirinya dengan Republik Islam Iran. Dan dunia tidak ada yang keberatan dengan itu.

Iran juga merupakan anggota OKI ( Organisasi Konfrensi Islam ) sebuah organisasi dunia Islam yang anggotanya adalah negara-negara berpenduduk muslim, termasuk Indonesia. Bahkan Iran sempat pula menjadi ketuanya. Jama’ah haji Iran, termasuk jama’ah haji terbesar setelah Indonesia.

Para ulama dan cendekiawan dunia Islam tidak sedikit secara terbuka menerima mazhab Syi’ah Ja’fari dan Zaidi sebagai diantara mazhab-mazhab dalam Islam.

Di Indonesia, tidak terbilang para ulama, kiyai, habaib, cendekiawan yang berpendapat seperti itu, antara lain : Prof.DR.Quraiys Syihab, yang pakar tafsir alquran; Prof.DR.Din Syamsuddin yang ketua umum PP Muhammadiyah dan juga Ketua MUI; Buya Prof.

DR.Syafi’i Ma’arif, Ulama dan Cendekiawan; Prof.DR.Agil Siraj yang Ketua PB NU; Gus Dur yang ulama, budayawan, cendekiawan, Guru Bangsa Indonesia;

Habib Luthfi bin Yahya, Pekalongan, seorang ulama, guru besar spiritual yang dikenal luas. Sebagiannya saya mengenal dengan baik, mereka adalah anak bangsa pilihan, benteng tangguh aswaja.

Syaikhul Azhar, Rektor Universitas Al Azhar Cairo, Mesir terdahulu, Al’allamah Mahmoud Syaltut almarhum (semoga Allah merahmatinya), beliau adalah salah satu ulama ahlus-sunnah waljama’ah terkemuka dan dihormati di dunia Islam aswaja, beliau menyatakan kurang lebihnya “Islam tidak mewajibkan ummatnya untuk mengikuti suatu mazhab tertentu.

Setiap muslim berhak bebas untuk mengikuti mazhab yang muktabar sesuai pilihannya. (Disebutkan dalam pernyataan itu antara lain mazhab Ja’fari, Syi’ah Imamiyah /Ahlul-Bait, yang dianut mayoritas di Republik Islam Iran).

Beliau bahkan juga menambahkan penjelasannya, “Tidaklah mengapa bagi setiap muslim untuk berpindah berganti dari satu mazhab ke mazhab yang lain.” Syaikhul Azhar saat ini, DR.Ahmad al Thoyyib; Prof.DR.Ali Jum’ah, Mufti Besar Mesir 2003-2013; Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut, seorang habib terkemuka yang paling dihormati di kalangan habaib diseluruh dunia termasuk para habaib di Indonesia; Habib Hasan bin Ali Assegaf Alhusaini, Yordania, dan banyak lagi, kesemuanya adalah para ulama mercu suar aswaja dunia, berpendapat bahwa mazhab syi’ah Ja’fari / Zaidi, meski dengan catatan berbeda dengan aswaja, adalah salah satu mazhab dalam keluarga besar Islam.

Mungkinkah pandangan para alim ulama cendekiawan semua itu kita abaikan dengan menganggapnya afwan “bodoh” dengan berbagai prasangka tuduhan buruk !? Sungguh sikap yang ceroboh, tidak bijak, sekaligus tidak Islami. Bagi yang tidak sependapat, itu sah-sah saja.

Tapi kalau sampai terlalu jauh menghakimi, sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan, halal darah dan hartanya, bisa-bisa pada gilirannya tidak ada lagi yang disebut muslimin, karena semua sudah saling mengkafirkan.

Memang ada, sekelompok kecil syi’ah yang ekstrim dan takfiri (mengkafirkan selain kelompoknya), seperti halnya juga ada kelompok semacam itu di aswaja. Ada juga para “ulama” dibelakangnya. Baik di kalangan syi’ah ataupun aswaja. Kelompok seperti itu ditolak oleh mayoritasnya.

Mereka sama sekali tidak memiliki legitimasi merepresentasikan syi’ah ataupun aswaja secara umum.

Bagi para remaja dan pemuda, bila ada dua kelompok berbeda pendapat secara tajam, kelompok pertama cenderung menjalin ukhuwwah dan kasih sayang, amar ma’ruf nahi munkar dengan santun, mengajak cinta pada bangsa dan tanah air dan kelompok kedua cenderung mengajak berseteru dan menyebar kebencian dan tindak kekerasan, memusuhi bangsa dan tanah air sendiri, pastilah tidak sulit bagi seorang muslim yang cerdas untuk memilih berada dimana.

Saya pribadi selama ini mantap berpendapat, bahwa agama dan mazhab, meski keduanya berhubungan, tetap saja merupakan dua hal yang berbeda secara mendasar. Agama adalah wahyu ilahi yang mutlak dan tidak akan pernah berubah.

Sementara mazhab bersifat ijtihadi, lebih seperti kesimpulan hasil kajian ijtihad para ulama, tidak berbeda dengan di berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang senantiasa bisa berubah dan berkembang setiap saat.

Sekedar contoh, dalam mazhab Syafi’i, dikenal ada yang disebut qaul qodim (pendapat yang terdahulu) dan ada qoul jadid ( pendapat yang baru) yang merupakan perbaikan dari pandangannya terdahulu. Begitulah mazhab, selalu bisa berubah dan berkembang, dan tidak begitu dengan agama yang bersifat mutlak dan tetap abadi sampai kiamat nanti.

Dulu, antar pengikut mazhab, saling memperolok, serang menyerang bahkan saling membunuh. Itu terjadi dalam komunitas antar mazhab ahlus-sunnah ataupun syi’ah. Dalam perkembangannya berubah menjadi lebih baik. Bisa dialog melakukan pendekatan satu sama lain demi li’izzil Islama wal muslimin.

Dewasa ini, siapa itu Taliban, Al-Qaedah, ISIS, Takfiri dari berbagai kelompok, yang saling membunuh, di Mesir, Afghanistan, Pakistan, Iraq, Libia, Suria, tambah lagi sekarang di Yaman. Coba dicermati, siapa yang membunuh dan siapa yang dibunuh !? Semuanya mengaku sebagai ahlus-sunnah wal jama’ah !

Bagaimana remaja-remaja kita tidak bingung dan cenderung menjauh dari agama, bila wajah kita carut marut seperti itu ?!

Gue gak ikutan bro kalo kayak gitu, capek deh perang melulu

kata mereka.

Bergemanya Islam Berkemajuan yang diusung Muhamadiyah, Islam Nusantara yang diusung NU, selayaknya sebuah ajakan otokritik, telah memberi secercah harapan bagi remaja pemuda Indonesia bahwa ada alternatif pilihan dalam berIslam yang sejuk, cinta ilmu pengetahuan, cinta kerukunan, toleransi, saling menghormati, menghargai perbedaan satu sama lain yang rahmatan lil’alamin dan bersama mengabdi bagi agama, bangsa dan tanah air tercinta.

Menurut hemat saya, sikap kita harus jelas, tegas dan mampu secara dewasa membedakan antara agama dan mazhab. Mencampur-adukkannya bisa menimbulkan kerancuan seperti yang kita saksikan selama ini. Kita tidak boleh mengganti Islam, agama kita, dengan mazhab apapun ! Mazhab, adalah hasil penafsiran manusia dan bukan wahyu ilahi yang mutlak wajib kita imani.

Adalah sikap yang naif, mengikatkan diri secara mutlak pada sesuatu yang jelas-jelas tidak mutlak. Mazhab apapun namanya. Sebuah mazhab yang bathil akan ditinggalkan orang dan punah ditelan zaman. Yang tersisa hanyalah catatan sejarah tanpa penganut. Begitu pula yang terjadi pada ilmu pengetahuan pada umumnya.

Sementara Islam, adalah wahyu Allah yang wajib kita terikat secara mutlak dan tidak akan pernah tergantikan oleh mazhab apapun sampai hari kiamat. Al Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaihi. Islam senantiasa unggul dan tidak akan pernah ada yang mengunggulinya. Islam adalah nurullah, cahaya Allah.

Kalaupun manusia, jin, setan dan semua makhluk di langit dan di bumi ini, bahu membahu berhasrat memadamkannya, niscaya nur itu akan tetap terang benderang sebagai pelita hidayah petunjuk jalan ummat manusia. Kehadiran Islam dan Rasulullah saw, adalah bukti nyata campur tangan Allah untuk menyelamatkan ummat manusia. Tentunya bagi yang mau diselamatkan.

Bagaimana mungkin, afwan, ma’af, mensetarakannya dengan mazhab !? Coba ditadabburi, direnungkan… Dalam menyongsong ‘izzul Islama wal Muslimin, semoga ummat Islam dalam berbagai mazhab, bisa saling menghargai, menghormati perbedaan satu sama lain dan berhenti saling menghujat, apalagi berperang dan membunuh.

Menjalin ukhuwwah islamiyah silaturahim yang diperintahkan, diwajibkan Islam secara terang benderang. Berpegang pada mazhab masing-masing sesuai pilihan kemantapan hati, silahkan saja. Tapi jangan berlebihan dan justru menimbulkan petaka.

Saya percaya, bila para imam mazhab tahu, akibat fatwanya ummat akan hidup layaknya di “kandang-kandang” dan saling berseteru tanpa ujung karena berbeda “kandang”, niscaya para imam yang luhur dan mulya itu akan memilih diam. Al Quran el Kariem, Wahyu Suci Ilahi, yang diimani ummat ini, memberi predikat kepada ummatnya sebagai khoiru ummah, ummat terbaik.

Yang mana, dimana itu khoiru ummah ?!? Potret ummat ini dalam kenyataannya, tidak sedikitpun ada kemiripan dengan ummat yang dimaksud dan disebut dengan bangga dalam al qur’an. Yang ada justru sebaliknya. Adakah kita ini khoiru ummah ?!?

Baiklah masing-masing bercermin dan menjawab sendiri.Kepada Para Ulama, kiyai, ustadz, habaib, yang syi’ah, yang aswaja, yang wahabi, yang takfiri, tunjukkanlah kepada remaja-remaja pemuda kami, yang mana, dimana, seperti apa itu

khoiru ummah !? Agar bisa menjadi teladan nyata dalam hidup dan bukan sekedar indah di mimbar-mimbar.

Saya rasakan, Rasulullah saw sedang mengamati kita semua dari dikejauhan, merunduk penuh luka, duka yang sangat dalam, trenyuh, air matanya yang suci bercucuran dan berkata : ۟ ‫َو َقا َل ٱلرَّ سُو ُل ٰ َي َربِّ ِإنَّ َق ْومِى ٱ َّت َخ ُذ‬ ‫ان َم ْهجُورً ا‬ َ ‫وا ٰ َه َذا ْٱلقُرْ َء‬ (:”Berkata Rasulullah, ya Rabbi, Sesungguhnya umatku telah berketetapan bahwa Qur’an ini sebagai sesuatu yang layak ditinggalkan.”) Al quran surat al Furqon ayat 30.

Ya Rasulallaaah…hadirlah ditengah ummatmu ini…sekali lagi…..sholawatullah alaihi wa alih… ‫وهللا اعلم بالصواب‬ Wallahu a’lam. haydar yahya,